<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rijal In Da Blog</title>
	<atom:link href="http://rijalwannab.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rijalwannab.wordpress.com</link>
	<description>--Just Another Rijaal In WordPress--</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Oct 2008 04:57:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rijalwannab.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b9de70b356a0102a4fe8362ce2cdd6bc?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rijal In Da Blog</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Arti Sebuah Cinta</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/10/20/arti-sebuah-cinta/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/10/20/arti-sebuah-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 04:56:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Syariah, Aqidah, 19 &#8211; November &#8211; 2003, 20:43:49
Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=233&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi<br />
Syariah, Aqidah, 19 &#8211; November &#8211; 2003, 20:43:49</p>
<p>Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.</p>
<p>Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.<span id="more-233"></span><br />
Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad . Allah  berfirman:<br />
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)<br />
Rasulullah  dalam haditsnya dari shahabat Tsauban  mengatakan: ‘Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah  berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah  menjawab: ‘Cinta dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)<br />
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah  memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”</p>
<p>Definisi Cinta<br />
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)</p>
<p>Hakikat Cinta<br />
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.</p>
<p>Cinta kepada Allah<br />
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:</p>
<p>“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)<br />
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah , faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah  maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”<br />
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah  bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik :<br />
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)<br />
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:<br />
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.<br />
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.<br />
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.<br />
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.<br />
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.<br />
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.<br />
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah .<br />
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).<br />
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.<br />
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah . (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)</p>
<p>Cinta adalah Ibadah<br />
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah  berfirman:</p>
<p>“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)</p>
<p>“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)</p>
<p>“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)<br />
Adapun dalil dari hadits Rasulullah  adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”</p>
<p>Macam-macam cinta<br />
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:<br />
Pertama, cinta ibadah.<br />
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.<br />
Kedua, cinta syirik.<br />
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah berfirman:</p>
<p>“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)</p>
<p>Ketiga, cinta maksiat.<br />
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman:</p>
<p>“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)<br />
Keempat, cinta tabiat.<br />
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah  berfirman:</p>
<p>“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /><br />
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.</p>
<p>Buah cinta<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  mengatakan: “Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)<br />
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di  menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)<br />
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.<br />
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.<br />
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.<br />
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.<br />
Wallahu a’lam. </p>
<p>sumber: <a href="http://www.asysyariah.com">www.asysyariah.com</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=233&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/10/20/arti-sebuah-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akibat Ulah Guru Besar</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/25/akibat-ulah-guru-besar/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/25/akibat-ulah-guru-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 04:55:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Di bangku kuliah, kita biasa mendengar ada istilah &#8220;guru besar&#8221; alias professor. Pada hari ini, di dunia almamater muncul &#8220;guru besar&#8221; yang jauh lebih hebat pengaruhnya dibandingkan pak Prof. Siapakah dia? Jawabnya, itulah barang malang yang disebut dengan &#8220;televisi&#8221;.Kehebatannya dalam mempengaruhi orang tidak perlu diragukan lagi. Mulai balita, anak kecil, ABG, orang dewasa, dan lansia, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=211&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di bangku kuliah, kita biasa mendengar ada istilah &#8220;guru besar&#8221; alias professor. Pada hari ini, di dunia almamater muncul &#8220;guru besar&#8221; yang jauh lebih hebat pengaruhnya dibandingkan pak Prof. Siapakah dia? Jawabnya, itulah barang malang yang disebut dengan &#8220;televisi&#8221;.Kehebatannya dalam mempengaruhi orang tidak perlu diragukan lagi. Mulai balita, anak kecil, ABG, orang dewasa, dan lansia, baik laki-laki, maupun perempuan dari kalangan orang rakyat jelata sampai professor; semuanya &#8220;bertekuk lutut&#8221; di hadapan TV. Semua terpukau dan silau dengan gemerlapnya tayangan televisi, seakan-akan tak ada cacat, aib, dan kesalahannya. Tapi, bagi orang yang memiliki sedikit ilmu din (agama) akan tahu tentang bahaya dan kerugian yang ditimbulkan oleh televisi di dunia dan akhirat.</p>
<p>Tayangan Televisi telah melatih para pemuda untuk berbuat kekerasan melalaui berbagai adegan yang ditampilkan kepada mereka dalam bentuk film-film tentang kriminal, karate, pertandingan tinju, dan lain sebagainya. Pengaruh buruknya bisa kita lihat dalam kehidupan anak-anak muda yang senang melakukan tawuran dan aksi kekerasan. Ini disebabkan karena mereka terobsesi dengan tayangan-tayangan di TV yang merusak akhlak mereka. Waktu mereka untuk belajar sangat sempit, digeser oleh berbagai jenis hiburan dan tayangan acara televisi yang menghabiskan waktu dengan materi yang tidak mendidik. Parahnya lagi, kurangnya jam pendidikan agama di sekolah-sekolah umum. Itu pun kalau guru agamanya hadir. Terkadang guru agamanya hadir, tapi para remaja sangat sedikit mendapatkan bimbingan-bimbingan rohani. Padahal bimbingan rohanilah yang dapat menyejukkan hati meraka yang merupakan pengontrol dari perbuatan-perbuatan mereka.</p>
<p>Disamping itu, keluarga sebagai lembaga nonformal yang pertama dan yang paling utama, kini cenderung sepi. Kedua orang tua berkerja dan anak dibiarkan menentukan pendidikan dan panutannya sendiri; atau mungkin ibu ada di rumah, namun ia tidak menerapkan pendidikan akhlak di keluarga, bahkan secara tidak langsung anak disuruh menyesuaikan diri dengan dunia modern yang penuh kebebasan. Mereka disediakan kamar sendiri dengan seperangkat video game, televisi dan computer yang memungkinkan anak menemukan celah-celah buruk dari media tersebut berupa sex, horor, kekerasan dan penghamburan waktu, tanpa kontrol dari orang tua. Oleh karena itu, pada akhir-akhir ini kita sering mendengar berita-berita kriminal, seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan dan lainnya. Kesemuanya ini adalah perkara-perkara yang dilarang oleh Allah -Azza wa Jalla-. Mereka mempelajari kejahatan-kejahatan ini melalui film dan tayangan televisi .<span id="more-211"></span></p>
<p>Allah -&#8217;Azza wa Jalla- berfirman:</p>
<p>وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا</p>
<p>&#8220;Dan barang siapa yang membunuh seorang mu&#8217;min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya, serta menyediakan siksaan yang besar baginya&#8221; . (QS. An-Nisa`: 93)</p>
<p>Seorang mufassir, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa&#8217;diy -rahimahullah- berkata dalam menafisrkan ayat ini, &#8220;Tidak ada ancaman yang lebih besar dalam semua jenis dosa besar, bahkan tidak pula semisalnya dibandingkan ancaman ini, yaitu pengabaran bahwa balasan orang yang membunuh adalah Jahannam. Maksudnya, cukuplah dosa yang besar ini saja untuk dibalasi pelakunya dengan Jahannam, beserta siksaan yang besar di dalamnya, kerugian yang hina, murkanya Al-Jabbar (Allah), luputnya keberuntungan, dan terjadinya kegagalan, dan kerugian. Kami berlindung kepada Allah dari segala sebab yang menjauhkan dari rahmat-Nya&#8221;. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 193-194)]</p>
<p>Televisi juga mempropagandakan gaya hidup mewah dan bebas di tengah dunia nyata. Akibatnya, semakin banyak orang yang hidup tanpa arah yang jelas; mencuri, merampok, korupsi dan lain-lain.</p>
<p>Guru Besar telah melatih para penjahat tentang seni terbaru dalam mencuri, menjarah, membuka kunci dan menghapus jejak kejahatan. Jika kita memperhatikan masa lalu, maka kita akan mendapati bahwasanya kejahatan dahulu itu sangat sederhana, sehingga dalam waktu singkat, para petugas mampu menangkap penjahat tersebut. Namun, kini para penjahat telah mempelajari dan mengetahui berbagai cara dan modus kejahatan terbaru. Mereka berguru dari film-film action dan selainnya, yang diajarkan oleh Guru Besar. Oleh karena itu, betapa seringnya kita mendengar terjadinya penjarahan rumah-rumah, pencurian mobil, pengedaran obat terlarang, penculikan gadis-gadis, perkosaan, pembunuhan dan lain sebagainya. Semua berhasil dengan sempurna berkat strategi yang jitu sehingga mampu melemahkan petugas. Dari mana mereka belajar semua itu? di universitas manakah mereka belajar? siapa yang mengajarkan semua itu kepada mereka? Tentunya dari Guru Besar alias TV.</p>
<p>Televisi dan Keretakan Rumah Tangga</p>
<p>Televisi adalah faktor utama tersebarnya problem perceraian dan kegagalan ramah tangga. Televisi telah mengajarkan para wanita untuk berbuat durhaka kepada suaminya. Waktunya lebih banyak dihabiskan di depan TV untuk menunggu sinetron-sinetron favoritnya, kabar-kabar para selebriti, film-film India dan telenovela kesayangannya. Sehingga banyak tugas dan kewajibannya yang dilalaikan sebagai seorang istri, seperti melayani dan memperhatikan suami serta anak-anaknya .</p>
<p>Dia juga melihat para suami yang ditayangkan di sinetron TV adalah orang-orang yang memiliki rumah yang besar, perabot-perabot yang lengkap, mobil yang mewah, dan selalu memberikan istrinya perhiasan yang indah-indah. Kemudian, ia membandingkan suaminya dengan apa yang dilihatnya di TV Dia menginginkan suaminya mampu seperti laki-laki ideal yang ada di televisi. Ketika suaminya tidak mampu berbuat seperti itu, dianggapnya suatu kekurangan dari suaminya dan menganggap bahwa suaminya tidak mampu membahagiakan dirinya. Sehingga, Suaminya pun marah, lalu perselisihan berkecamuk, ikatan perkawinan retak, ikatan keluarga terputus. Akibatnya banyak kasus perceraian diakibatkan sikap istri yang kurang perhatian dan pengertian kepada suaminya Penyebabnya, tiada lain adalah TV. Padahal, hak-hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri itu banyak sekali dan sangat agung. Karena demikian agungnya hak tersebut , Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:</p>
<p>مَا يَنْبَغِى لِأََحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ يَنْبَغِى أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍِ لَأَ مَرْتُ امْرَأَتًا أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا كَمَا عَظَّمَ االلهُ عَلَيْهِ مٍنْ حَقِّهِ</p>
<p>&#8220;Tidaklah sepantasnya seorang bersujud kepada yang lain. Andaikata seorang boleh bersujud kepada orang lain niscaya aku akan perintahkan seorang wanita bersujud kepada suaminya karena Allah menganggap besar hak seorang suami atasnya &#8221; . [HR. At-Tirmidzi dalam Al-Kubra (7/291), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (415). Al-Albani men-shohih-kannya dalam Takhrij Al-Misykah Al-Mashobih (3255)]</p>
<p>Al-Allamah Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarakfuriy -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan kenapa sampai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda demikian tadi, &#8220;Karena besarnya hak suami atas diri sang istri, dan ketidakmampuan seorang istri mensyukurinya. Dalam hadits ini, terdapat penekanan yang teramat dalam tentang wajibnya seorang istri taat kepada suami, karena sujud tidak halal, kecuali sujud kepada Allah&#8221; [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (4/358)]</p>
<p>Selain itu, seorang akan memandang lawan jenisnya ketika ia menonton TV. Padahal Allah telah mengharamkan memandang kepada lawan jenis yang bukan mahramnya, karena bahayanya yang begitu besar, dapat mengantarkan kepada sesuatu yang lebih berbahaya yaitu zina.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ &#8230; وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ</p>
<p>&#8220;Katakanlah kepada laki-laki yang beriman supaya mereka menundukkan pandangan mereka&#8230; Katakanlah kepada kaum wanita yang beriman agar menundukkan pandangan mereka&#8221;. (QS. An-Nur: 30-31)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasqiy &#8211; rahimahullah &#8211; berkata dalam Tafsir Ibnu Katsir (3/373), &#8220;Ini merupakan perintah dari Allah -Ta&#8217;ala- kepada para hamba-Nya yang beriman, agar mereka menundukkan pandangan mereka dari sesuatu yang haram atas mereka. Maka mereka hendaknya tidak memandang, kecuali kepada sesuatu yang dihalalkan oleh Allah bagi mereka untuk dipandang; dan agar menundukkan pandangannya dari wanita-wanita. Jika kebetulan pandangannya tertuju pada sesuatu yang haram (dipandang), tanpa ada kesengajaan, maka hendaknya ia memalingkan pandangannya dari hal itu dengan cepat &#8220;.</p>
<p>Beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:</p>
<p>يَا عَلِيُّ لاَ تٌتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ اْلأُوْلىَ وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ</p>
<p>&#8220;Wahai Ali, janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya&#8221;. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (2149), dan At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2777). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Jilbab Al-Mar'ah (77)]</p>
<p>Perintah untuk menundukkan pandangan, tidak mungkin bisa dilaksanakan selama barang haram ‘televisi&#8217; ada dirumah kita. Sebab tayangan-tayangan yang ditampilkan, tidak lepas dari perkara haram: mulai dari pameran aurat (sedang aurat wanita, seluruh tubuhnya), ikhtilat (campur baur laki-laki dan wanita), berkhalwat (berdua-duaan dengan yang bukan mahramnya), wanita-wanita yang bertabarruj (menampakkan kecantikan), nyanyian dan musik.</p>
<p>* Televisi dan Penghancuran Aqidah</p>
<p>Televisi telah menghancurkan aqidah kaum muslimin dengan berbagai tayangan-tayangan yang merusak dan sarat dengan kesyirikan. Dengan menampilkan kuburan-kuburan para wali di berbagai tempat (daerah), sedang di samping kuburan itu ada orang yang berdoa, shalat, menyembelih, bernadzar, meminta jaminan, meminta bantuan, meminta pertolongan, meminta rezki, mencari keterangan, mencari petunjuk atas orang atau barang yang hilang supaya bisa kembali ,atau melakukan ritual-ritual ibadah dan lain sebagainya.</p>
<p>Padahal Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,</p>
<p>لاَ تُصَلُّوْا إِلىَ قَبْرٍ وَلاَ تُصَلُّوْا عَلىَ قَبْرٍ</p>
<p>&#8220;Janganlah engkau shalat menghadap ke kubur, dan jangan pula shalat di atasnya&#8221;. [HR. Ath-Thabraniy dalam Al-Kabir (3/145/2). Hadits ini dishohihkan oleh Al-Albaniy dalam Tahdzir As-Sajid (hal. 31)]</p>
<p>Televisi juga menampilkan kebohongan para tukang sihir, dukun dan peramal. Para dukun itu menampilkan diri seolah-olah sebagai seorang tabib dan kiyai, sehingga mereka memerintahkan orang yang sakit agar menyembelih kambing atau ayam dengan ciri-ciri tertentu; menuliskan untuk para pasiennya sebuah tulisan (mantra-mantra) syirik dan permohonan perlindungan syaithoniyah dalam bentuk bungkusan yang dikalungkan di leher, diletakkan di laci atau di atas pintu. Sebagian lagi menampakkan diri sebagai wali yang memiliki karamah dan hal-hal diluar kebiasaan manusia, seperti masuk ke dalam api, tetapi tidak terbakar; menebas dirinya dengan pedang, namun tidak terluka; atau dilindas mobil, tetapi tidak apa-apa, dan lainnya di antara keanehan, hakekatnya adalah sihir dan perbuatan syaithan yang diperjalankan melalui tangan mereka untuk membuat kerusakan aqidah di antara manusia.</p>
<p>Pengakuan mereka mengetahui ilmu ghaib dan perkara-perkara ghaib, kesemuanya itu melalui permohonan bantuan syethan-syethan yang mencuri dengar dari langit. Allah -Ta&#8217;ala- berfirman:</p>
<p>هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ . تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ . يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ</p>
<p>&#8220;Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syethan-syethan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syetan) itu, dan kebanyakan mereka adalah pendusta&#8221;. (QS. Asy-Syuara&#8217; : 221-223).</p>
<p>Al-Imam Al-Lalika&#8217;iy-rahimahullah- berkata, &#8220;Mereka itu (para wali syetan) menjadikan syetan-syetan sebagai walipenolong mereka. Mereka telah menjual agamanya dengan imbalan berupa kemampuan-kemampuan luar biasa dan bentuk pertolongan lain yang diberikan syetan-syetan itu kepada mereka&#8221;. [Lihat Syarh Ushul hal. 27)</p>
<p>Syetan mencuri kalimat dari ucapan malaikat kemudian disampaikan ke telinga mereka, dan mereka berbohong dengan kalimat (yang diterimanya itu) sebanyak seratus kali kebohongan di layar kaca lalu para pemirsa mempercayainya, disebabkan oleh satu kalimat (yang benar tersebut) yang didengar oleh syethan dari langit. Apa yang dikatakan tukang sihir, dukun dan peramal, sebenarnya hanyalah dugaan dan kebetulan saja.</p>
<p>Umumnya, tidak lebih dari dusta karena bisikan syethan. Tidak ada yang terbujuk, kecuali orang yang kurang akal dan agamanya saja. Realita ini merupakan fenomena yang aneh! Aneh, tapi nyata. Orang yang berakal sehat akan bertanya-tanya, mengapa di zaman modern ini, zaman globalisasi, zaman teknologi, dan komunikasi semakin canggih hingga sebagian orang memuja-mujanya setinggi langit, namun khurafat, mistik, dan perdukunan masih lengket, bahkan terkesan semakin lengket dengan kehidupan masyarakat.</p>
<p>Dalam acara-acara TV banyak kita temukan perkara-perkara sihir. Biasanya ditampilkan dalam bentuk acara yang berbau kemistikan, sepeti &#8220;Pemburu Hantu&#8221;, &#8220;Misteri Gunung Merapi&#8221;, &#8220;Kera Sakti&#8221;, &#8220;Gerhana&#8221;,&#8221;Mariam si Manis Jembatan Ancol&#8221;, &#8220;Mahkota Mayangkara&#8221;, dan masih banyak lagi tayangan lainnya yang ternyata sebagai &#8220;Dalang Penghancur Aqidah&#8221;. Padahal di dalam kitab-kitab aqidah, para ulama telah banyak membahas tentang bahaya sihir terhadap aqidah. Mereka menyebutkan bahwasanya sihir dapat membatalkan keislaman seseorang sehingga menjadikan dia tidak beraqidah Islam lagi. Kalau hal ini sampai terjadi maka tidak ada lagi harapan kebahagian bagi dirinya. Karena Allah telah menjelaskan di dalam firman-Nya:</p>
<p>وَلاَ يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى</p>
<p>&#8220;Dan tidak akan beruntung tukang sihir dari manapun dia datang&#8221;. (QS. Thaha: 69)</p>
<p>Sumber : Buletin Jum&#8217;at Al-Atsariyyah edisi 17 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te&#8217;ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa&#8217;izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa&#8217;izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma&#8217;had Tanwirus Sunnah &#8211; Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa&#8217;izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p>Sumber: <a href="http://almakassari.com/?p=118">http://almakassari.com/?p=118</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=211&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/25/akibat-ulah-guru-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Imam as-Suyuthi (849-911 H)</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/23/al-imam-as-suyuthi-849-911-h/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/23/al-imam-as-suyuthi-849-911-h/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 06:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Saabiquddien bin al-Fakhr Utsman bin Nashiruddien Muhammad bin Saifuddin Khadhari bin Najmuddien Abi ash-Shalaah Ayub ibn Nashiruddien Muhammad bin asy-Syaich Hammamuddien al-Hamman al-Khadlari al-Asyuuthi. Lahir ba&#8217;da Maghrib, hari Ahad malam, bulan Rajab tahun 849 Hijriyah, yakni enam tahun sebelum bapaknya wafat.
Asal Usul Beliau
Jalaluddien as-Suyuthi berasal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=208&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Saabiquddien bin al-Fakhr Utsman bin Nashiruddien Muhammad bin Saifuddin Khadhari bin Najmuddien Abi ash-Shalaah Ayub ibn Nashiruddien Muhammad bin asy-Syaich Hammamuddien al-Hamman al-Khadlari al-Asyuuthi. Lahir ba&#8217;da Maghrib, hari Ahad malam, bulan Rajab tahun 849 Hijriyah, yakni enam tahun sebelum bapaknya wafat.</p>
<p>Asal Usul Beliau</p>
<p>Jalaluddien as-Suyuthi berasal dari lingkungan cendekiawan sejak kecilnya. Bapaknya berusaha mengarahkannya ke arah kelurusan dan keshalihan. Adalah beliau hafal al-Qur&#8217;an di usianya yang sangat dini dan selalu diikutkan bapaknya di berbagai majlis ilmu dan berbagai majlis qadhinya.<span id="more-208"></span></p>
<p>Dan bapaknya telah memintakan kepada Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani supaya mendo&#8217;akannya diberi berkah dan taufiq. Dan adalah bapaknya melihat dalam diri anaknya seperti yang didapati dalam diri Ibnu Hajar, hingga ketika beliau minum, sebagian diberikan kepada anaknya dan mendo&#8217;akannya agar ia seperti Ibnu Hajar, menjadi ulama yang trampil dan tokoh penghafal (hadits). Bapaknya wafat saat ia (imam Suyuthi) baru berumur lima tahun tujuh bulan. Tetapi Allah telah memeliharanya dengan taufiq dari-Nya dan mengasuhnya dengan asuhan-Nya. Ini terbukti dengan telah ditakdirkan Allah Ta&#8217;ala untuknya al-‘Allamah Kamaaluddien bin Humam al-Hanafi pengarang Fathul Qadir untuk menjadi guru asuhnya. Hingga hafal al-Qur&#8217;an dalam umur delapan tahun, kemudian menghafal kitab al-&#8217;Umdah lalu Minhajul Fiqhi dan Ushul, serta Alfiyah Ibnu Malik. Dan mulai menyibukkan diri dengan (menggeluti) ilmu pada tahun 864 H, yakni ketika berumur 15 tahun.</p>
<p>Menimba ilmu Fiqih dari Syaikh Siraajuddien al-Balqini. Bahkan mulazamah kepada beliau hingga wafatnya. Kemudian mulazamah kepada anak beliau, dan menyimak banyak pelajaran darinya seperti al-Haawi ash-Shaghir, al-Minhaaj, syarah al-Minhaaj dan ar-Raudhah. Belajar Faraidl dari syaikh Sihaabuddien Asy-Syaarmasaahi, dan mulazamah kepada asy-Syari al-Manaawi Abaaz Kuriya Yahya bin Muhammad, kakak dari Abdurrauf pensyarah al-Jami&#8217; ash-Shaghir. Kemudian menimba ilmu bahasa Arab dan ilmu Hadits kepada Taqiyuddien asy-Syamini al-Hanafi (872 H). Lalu mulazamah kepada syaikh Muhyiddien Muhammad bin Sulaiman ar-Ruumi al-Hanafi selama 14 tahun. Dari beliau ia menimba ilmu tafsir, ilmu Ushul, ilmu bahasa Arab dan ilmu Ma&#8217;ani. Juga berguru kepada Jalaaluddien al-Mahilli (864 H) dan ‘Izzul Kinaani Ahmad bin Ibrahim al-Hanbali. Dan membaca shahih Muslim, asy-Syifa, Alfiyah Ibnu malik dan penjelasaannya pada Syamsu as-Sairaami.</p>
<p>Imam Suyuthi tidak mau meninggalkan satu cabang ilmu pun kecuali ia berusaha untuk mempelajarinya, seperti ilmu hitung dan ilmu faraidl dari Majid bin as-Sibaa&#8217; dan Abudl Aziz al-Waqaai, serta ilmu kedokteran kepada Muhammad bin Ibrahim ad-Diwwani ar-Ruumi. Hal ini sesuai dan didukung oleh keadaan waktu itu di mana dia dapat menimba ilmu dari banyak syaikh. Ia tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya, baik ilmu bahasa maupun ilmu dien, demikian pula ia tidak merasa cukup dengan para ulama yang telah ia temui.</p>
<p>Bahkan ia bepergian jauh sekedar untuk mencari ilmu dan riwayat hadits, hingga ke negeri Maghribi (Tanjung Harapan, sebelah ujuh barat pulau Afrika), ke Yaman, India, Syam Mahallah (di Mesir Barat), Diimath (sebuah kota di tepi sungai Nil, Mesir), dan Fayyum (Mesir) serta negeri-negeri Islam lainnya. Telah menunaikan ibadah Hajji dan telah minum air Zam-zam dengan harapan supaya dapat seperti Syaich al-Balqini dalam menguasi ilmu Fiqih serta dapat seperti Ibnu Hajar dalam menguasai ilmu Hadits.</p>
<p>Demikianlah imam yang mulia ini, mengadakan perjalanan yang tidak tanggung-tanggung dengan segala kesusahannya hanya untuk dapat menimba ilmu. Banyak sekali gurunya. Bahkan disebutkan oleh syaikh Abdul Wahhab asy-Sya&#8217;rani dalam kitab Thabaqat bahwa gurunya lebih dari 600-an orang.</p>
<p>Sesuai dengan banyaknya syaikh dan jauhnya perjalanannya dalam menimba ilmu, hal itu didukung pula oleh kemampuannya untuk semaksimal mungkin dalam memanfaatkan perpustakaan Madrasah Mahmudiyah. Berkata al-Maqrizi, bahwa di dalam perpustakaan ini terdapat segala jenis kitab-kitab Islam, dan madrasah ini merupakan sebaik-baik madrasah yang ada, yang dinisbatkan kepada Mahmud bin al-Astadaar, yang berdirinya pada tahun 897 H. Dan kitab-kitab yang ada tersebut merupakan kitab yang paling lengkap dari yang ada sekarang di Qahirah (Cairo), yang merupakan koleksi dari Burhan Ibn Jama&#8217;ah dan kemudian dibeli oleh Mahmud al-Astadaar dengan uang warisannya setelah ia wafat dan kemudian ia waqafkan.</p>
<p>Hingga matanglah kepribadian Suyuthi, dan sempurnalah pembentukan ilmunya pada taraf syarat mampu untuk berijtihad. Beliau seorang yang mudah mengerti, kuat hafalannya, dianugerahi Allah dengan otak yang cerdas, disamping itu beliau adalah seorang yang ‘abid (ahli ibadah), zuhud, tawadlu&#8217;. Tidak mau menerima hadiah raja. Pernah ia diberi hadiah raja Ghuuri seorang budak perempuan dan uang banyak sebesar seribu dinar. Maka dikembalikannya uang itu sedangkan budak perempuan itu dimerdekakannya dan menjadikannya sebagai pelayan di hujrah Nabawi. Lalu ia berkata kepada sang penguasa itu, &#8220;Jangan berusaha memalingkan hanya dengan memberi hadiah semacam itu karena Allah telah menjadikan aku merasa tidak butuh dari hal-hal semacam itu.&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu beliau rahimahullah dikenal sebagai seorang yang berani tapi beradab, semangat dalam menegakkan hukum-hukum syari&#8217;at dan mengamalkannya tanpa memihak kepada seorang pun. Tidak takut dalam kebenaran celaan orang yang mencela. Ia telah diminta untuk memberikan fatwa serta urusan-urusan yang bersangkutan dengan kehakiman, maka beliau tetap berusaha untuk adil dan menerapkan hukum-hukum dien tanpa memperdulikan kemarahan Umara&#8217; maupun penguasa. Bahkan jika ia melihat ada Qadhi (hakim) yang menta&#8217;wilkan hukum sesuai dengan kehendak penguasa, bertujuan menjilat mereka maka beliau menentangnya dan menyatakan pengingkarannya serta cuci tangan darinya. Menerangkan kesalahannya, dan meluruskannya, seperti yang dikemukakannya dalam kitab &#8220;al-Istinshaar bil Wahid al-Qahhar.&#8221; Beliau terlalu disibukkan dengan memberi pelajaran dan berfatwa sampai umur 40 tahun, kemudian beliau lebih mengkhususkan untuk beribadah dan mengarang kitab. Dan karangan imam Suyuthi rahimahullah lebih dari 500 buah karangan. Berkata imam Suyuthi, &#8220;Kalau seandainya aku mau maka aku mampu untuk menyusun kitab yang membahas setiap masalah dengan segala teori dan dalil-dalil yang kami nukil, qiyasnya, keterangannya, bantahan-bantahannya, jawaban-jawabannya, muwazanahnya antara perselisihan berbagai madzhab tentang masalah itu, dengan fadhilah Allah, tidak dengan daya dan kemampuanku. Karena sesungguhnya tidak ada kekuatan kecuali dari Allah.&#8221;</p>
<p>Kitab-Kitabnya</p>
<p>Adapun kitab-kitab yang disusun oleh imam Suyuthi rahimahullah antara lain sebagai berikut:</p>
<p>1. Al-Itqaan fi ‘Uluumil Qur&#8217;an<br />
2. Ad-Durrul Mantsuur fit Tafsiril Ma&#8217;tsuur<br />
3. Tarjumaan al-Qur&#8217;an fit Tafsir<br />
4. Israaru at-Tanziil atau dinamakan pula dengan Qathful Azhaar fi Kasyfil Asraar<br />
5. Lubaab an-Nuqul fi Asbaabi an-Nuzuul<br />
6. Mifhamaat al-Aqraan fi Mubhamaat al-Qur&#8217;an<br />
7. Al-Muhadzdzab fiima waqa&#8217;a fil Qur&#8217;an minal Mu&#8217;arrab<br />
8. Al-Ikllil fi istimbaath at-Tanziil<br />
9. Takmilatu Tafsiir asy-Sayich Jalaaluddien al-Mahilli<br />
10. At-Tahiir fi ‘Uluumi Tafsir<br />
11. Haasyiyah ‘ala Tafsiri al-Baidlawi<br />
12. Tanaasuq ad-Duraru fi Tanaasub as-Suwari<br />
13. Maraashid al-Mathaali fi Tanaasub al-Maqaathi&#8217; wal Mathaali&#8217;<br />
14. Majma&#8217;u al-Bahrain wa Mathaali&#8217;u al-Badrain fi at-Tafsir.<br />
15. Mafaatihu al Ghaib fi at-Tafsiir<br />
16. Al-Azhaar al-Faaihah ‘alal Fatihah<br />
17. Syarh al-Isti&#8217;adzah wal Kasmalah<br />
18. Al-Kalaam ‘ala Awalil Fathi<br />
19. Syarh asy-Syathibiyah<br />
20. Al-Alfiyah fil Qara&#8217;at al ‘asyri<br />
21. Khimaayal az-Zuhri fi Fadla&#8217;il as-Suwari<br />
22. Fathul Jalil li ‘Abdi Adz Dzalil fil Anwa&#8217;il Badi&#8217;ah al- Mustakhrijah min Qaulihi Ta&#8217;ala: Allaahu Waliyyulladziina aamanu<br />
23. al-Qaul al-Fashih Fi Ta&#8217;yiini adz-Dzabiih<br />
24. al-Yadul Bustha fi as-Shalaatil Wustha<br />
25. Mu&#8217;tarakul Aqraan Fi musykilaatil Qur&#8217;an</p>
<p>Semua itu judul-judul buku yang berkenaan dengan Tafsir, adapun yang berkenaan dengan ilmu hadits, antara lain adalah sebagai berikut:</p>
<p>. ‘Ainul Ishaabah Fi Ma&#8217;rifati ash-Shahaabah<br />
2. Durru ash-Shahaabah Fi man Dakhala Mishra Minash Shahaabah<br />
3. Husnul Muhaadlarah<br />
4. Riihu an-Nisriin Fi man ‘Aasya Minash Shahaabah Mi ata Wa ‘isyriin<br />
5. Is&#8217;aaful Mubtha&#8217; bi Rijaalil Muwaththa&#8217;<br />
6. Kasyfu at-Talbiis ‘an Qalbi Ahli Tadliis<br />
7. Taqriibul Ghariib<br />
8. al-Madraj Ila al-Mudraj<br />
9. Tadzkirah al-Mu&#8217;tasi Min Hadits Man haddatsa wa nasiy<br />
10. Asmaa`ul Mudallisiin<br />
11. al-Luma&#8217; Fi Asmaa`i Man Wadla&#8217;<br />
12. ar-Raudlul Mukallal Wa Waradul Mu&#8217;allal fi al-mushthalah</p>
<p>Wafatnya</p>
<p>Imam as-Suyuthi rahimahullah wafat pada hari Jum&#8217;at, malam tanggal 19 Jumadal Ula tahun 911 H. Sebelumnya beliau menderita sakit selama tujuh hari dan akhirnya wafat dalam umur 61 tahun. Dikuburkan di pemakaman Qaushuun atau Qaisun di Cairo.</p>
<p>Sumber dari : Kitab adriib ar-Raawi Fi Syarh Taqriib an-Nawawy karya as-Suyuthy.</p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/02/al-imam-as-suyuthi-849-911-h/">http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/02/al-imam-as-suyuthi-849-911-h/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=208&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/23/al-imam-as-suyuthi-849-911-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Hajar Al ‘Asqolani (773-852 H)</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/23/ibnu-hajar-al-%e2%80%98asqolani-773-852-h/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/23/ibnu-hajar-al-%e2%80%98asqolani-773-852-h/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 06:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Nama dan Nasabnya
Nama sebenarnya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi&#8217;i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya &#8220;al Hafizh&#8221;. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan&#8217;, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.
Kelahirannya
Beliau lahir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=206&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nama dan Nasabnya</p>
<p>Nama sebenarnya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi&#8217;i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya &#8220;al Hafizh&#8221;. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan&#8217;, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.</p>
<p>Kelahirannya</p>
<p>Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya&#8217;ban 773 H, namun tanggal kelahirannya diperselisihkan. Beliau tumbuh di sana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun.<span id="more-206"></span></p>
<p>Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Dua orang itu ialah Zakiyuddin al Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al Mishri.</p>
<p>Perjalanan Ilmiah Ibnu Hajar</p>
<p>Perjalanan hidup al Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk kuttab (semacam Taman Pendidikan al Qur&#8217;an) setelah genap berusia lima tahun. Hafal al Qur&#8217;an ketika genap berusia sembilan tahun. Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti al ‘Umdah, al Hawi ash Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan Milhatul I&#8217;rab.</p>
<p>Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya:</p>
<p>1. Dua tanah haram, yaitu Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki Rahimahullah. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan umrah.</p>
<p>2. Dimasyq (Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibu ‘Asakir Rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al Bulqini.</p>
<p>3. Baitul Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.</p>
<p>4. Shana&#8217; dan beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.</p>
<p>Semua ini, dilakukan oleh al Hafizh untuk menimba ilmu, dan mengambil ilmu langsung dari ulama-ulama besar. Dari sini kita bisa mengerti, bahwa guru-guru al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqlani sangat banyak, dan merupakan ulama-ulama yang masyhur. Bisa dicatat, seperti: ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki (wafat 790 H), Muhammad bin ‘Abdullah bin Zhahirah al Makki (wafat 717 H), Abul Hasan al Haitsami (wafat 807 H), Ibnul Mulaqqin (wafat 804 H), Sirajuddin al Bulqini Rahimahullah (wafat 805 H) dan beliaulah yang pertama kali mengizinkan al Hafizh mengajar dan berfatwa. Kemudian juga, Abul-Fadhl al ‘Iraqi (wafat 806 H) -beliaulah yang menjuluki Ibnu Hajar dengan sebutan al Hafizh, mengagungkannya dan mempersaksikan bahwa Ibnu Hajar adalah muridnya yang paling pandai dalam bidang hadits-, ‘Abdurrahim bin Razin Rahimahullah -dari beliau ini al Hafizh mendengarkan shahih al Bukhari-, al ‘Izz bin Jama&#8217;ah Rahimahullah, dan beliau banyak menimba ilmu darinya. Tercatat juga al Hummam al Khawarizmi Rahimahullah. Dalam mengambil ilmu-ilmu bahasa arab, al Hafizh belajar kepada al Fairuz Abadi Rahimahullah, penyusun kitab al Qamus (al Muhith-red), juga kepada Ahmad bin Abdurrahman Rahimahullah. Untuk masalah Qira&#8217;atus-sab&#8217; (tujuh macam bacaan al Qur&#8217;an), beliau belajar kepada al Burhan at-Tanukhi Rahimahullah, dan lain-lain, yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fiqih dan hadits.</p>
<p>Jadi, al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani mengambil ilmu dari para imam pada zamannya di kota Mesir, dan melakukakan rihlah (perjalanan) ke negeri-negeri lain untuk menimba ilmu, sebagaimana kebiasaan para ahli hadits.</p>
<p>Layaknya sebagai seorang ‘alim yang luas ilmunya, maka beliau juga kedatangan para thalibul ‘ilmi (para penuntut ilmu, murid-red) dari berbagai penjuru yang ingin mengambil ilmu dari beliau, sehingga banyak sekali murid beliau. Bahkan tokoh-tokoh ulama dari berbagai madzhab adalah murid-murid beliau. Yang termasyhur misalnya, Imam ash-shakhawi (wafat 902 H), yang merupakan murid khusus al Hafizh dan penyebar ilmunya, kemudian al Biqa&#8217;i (wafat 885 H), Zakaria al-Anshari (wafat 926 H), Ibnu Qadhi Syuhbah (wafat 874 H), Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H), Ibnu Fahd al-Makki (wafat 871 H), dan masih banyak lagi yang lainnya.</p>
<p>Karya-Karyanya</p>
<p>Kepakaran al Hafizh Ibnu Hajar sangat terbukti. Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekti ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah Ta&#8217;ala di dalam karya-karyanya, yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang lain. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Para raja dan amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar Rahimahullah. Bahkan sampai sekarang, kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya beliau Rahimahullah.</p>
<p>Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta&#8217;liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.</p>
<p>Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).</p>
<p>Mengemban Tugas Sebagai Hakim</p>
<p>Beliau terkenal memiliki sifat tawadhu&#8217;, hilm (tahan emosi), sabar, dan agung. Juga dikenal banyak beribadah, shalat malam, puasa sunnah dan lainnya. Selain itu, beliau juga dikenal dengan sifat wara&#8217; (kehati-hatian), dermawan, suka mengalah dan memiliki adab yang baik kepada para ulama pada zaman dahulu dan yang kemudian, serta terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, baik tua maupun muda. Dengan sifat-sifat yang beliau miliki, tak heran jika perjalanan hidupnya beliau ditawari untuk menjabat sebagai hakim.</p>
<p>Sebagai contohya, ada seorang hakim yang bernama Ashadr al Munawi, menawarkan kepada al Hafizh untuk menjadi wakilnya, namu beliau menolaknya, bahkan bertekad untuk tidak menjabat di kehakiman. Kemudian, Sulthan al Muayyad Rahimahullah menyerahkan kehakiman dalam perkara yang khusus kepada Ibnu Hajar Rahimahullah. Demikian juga hakim Jalaluddin al Bulqani Rahimahullah mendesaknya agar mau menjadi wakilnya. Sulthan juga menawarkan kepada beliau untuk memangku jabatan Hakim Agung di negeri Mesir pada tahun 827 H. Waktu itu beliau menerima, tetapi pada akhirnya menyesalinya, karena para pejabat negara tidak mau membedakan antara orang shalih dengan lainnya. Para pejabat negara juga suka mengecam apabila keinginan mereka ditolak, walaupun menyelisihi kebenaran. Bahkan mereka memusuhi orang karena itu. Maka seorang hakim harus berbasa-basi dengan banyak fihak sehingga sangat menyulitkan untuk menegakkan keadilan.</p>
<p>Setelah satu tahun, yaitu tanggal 7 atau 8 Dzulqa&#8217;idah 828 H, akhirnya beliau mengundurkan diri.</p>
<p>Pada tahun ini pula, Sulthan memintanya lagi dengan sangat, agar beliau menerima jabatan sebagai hakim kembali. Sehingga al Hafizh memandang, jika hal tersebut wajib bagi beliau, yang kemudian beliau menerima jabatan tersebut tanggal 2 rajab. Masyarakatpun sangat bergembira, karena memang mereka sangat mencintai beliau. Kekuasaan beliau pun ditambah, yaitu diserahkannya kehakiman kota Syam kepada beliau pada tahun 833 H.</p>
<p>Jabatan sebagai hakim, beliau jalani pasang surut. Terkadang beliau memangku jabatan hakim itu, dan terkadang meninggalkannya. Ini berulang sampai tujuh kali. Penyebabnya, karena banyaknya fitnah, keributan, fanatisme dan hawa nafsu.</p>
<p>Jika dihitung, total jabatan kehakiman beliau mencapai 21 tahun. Semenjak menjabat hakim Agung. Terakhir kali beliau memegang jabatan hakim, yaitu pada tanggal 8 Rabi&#8217;uts Tsani 852 H, tahun beliau wafat.</p>
<p>Selain kehakiman, beliau juga memilki tugas-tugas:<br />
- Berkhutbah di Masjid Jami&#8217; al Azhar.<br />
- Berkhutbah di Masjid Jami&#8217; ‘Amr bin al Ash di Kairo.<br />
- Jabatan memberi fatwa di Gedung Pengadilan.</p>
<p>Di tengah-tengah mengemban tugasnya, beliau tetap tekun dalam samudra ilmu, seperti mengkaji dan meneliti hadits-hadits, membacanya, membacakan kepada umat, menyusun kitab-kitab, mengajar tafsir, hadits, fiqih dan ceramah di berbagai tempat, juga mendiktekan dengan hafalannya. Beliau mengajar sampai 20 madrasah. Banyak orang-orang utama dan tokoh-tokoh ulama yang mendatanginya dan mengambil ilmu darinya.</p>
<p>Kedudukannya</p>
<p>Ibnu Hajar Rahimahullah menjadi salah satu ulama kebanggaan umat, salah satu tokoh dari kalangan ulama, salah satu pemimpin ilmu. Allah Ta&#8217;ala memberikan manfaat dengan ilmu yang beliau miliki, sehingga lahirlah murid-murid besar dan disusunnya kitab-kitab.</p>
<p>Seandainya kitab beliau hanya Fathul Bari, cukuplah untuk meninggikan dan menunjukkan keagungan kedudukan beliau. Karena kitab ini benar-benar merupakan kamus Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaii wasallam. Sedangkan karya beliau berjumlah lebih dari 150 kitab.</p>
<p>Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, Adalah merupakan kedzaliman jika mengatakan mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam golongan ahli bid&#8217;ah. Menurut Syaikh al Albani, meskipun keduanya beraqidah Asy&#8217;ariyyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Anggapan mereka, aqidah Asy&#8217;ariyyah yang mereka warisi itu adalah dua hal: Pertama, bahwa Imam al Asy&#8217;ari mengatakannya, padahal beliau tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju aqidah Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.</p>
<p>Wafatnya</p>
<p>Ibnu Hajar wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir, setelah kehidupannya dipenuhi dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, menurut sangkaan kami, dan kami tidak memuji di hadapan Allah terhadap seorangpun. Beliau dikuburkan di Qarafah ash-Shugra. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas, memaafkan dan mengampuninya dengan karunia dan kemurahanNya.</p>
<p>Kitab al Ajwibah al Mufidah min As&#8217;ilah al manahij al Jadidah, Kitab Fathul Bari ,Abdul ‘Aziz bin Baaz.</p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/06/ibnu-hajar-al-%E2%80%98asqolani-773-852-h/">http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/06/ibnu-hajar-al-%E2%80%98asqolani-773-852-h/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/206/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=206&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/23/ibnu-hajar-al-%e2%80%98asqolani-773-852-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam An-Nawawi (631-676H)</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-an-nawawi-631-676h/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-an-nawawi-631-676h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 07:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Nama dan Nasabnya
Beliau adalah Al Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Hussain bin Jumu&#8217;ah bin Hizam Al Hizamy An Nawawi Asy Syafi&#8217;i.
Kelahirannya
Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa daerah Hauran termasuk wilayah Damaskus Syiria.
Sifat &#8211; sifatnya
Beliau adalah tauladan dalam kezuhudan, wara&#8217;, dan memerintah pada yang ma&#8217;ruf [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=196&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nama dan Nasabnya</p>
<p>Beliau adalah Al Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Hussain bin Jumu&#8217;ah bin Hizam Al Hizamy An Nawawi Asy Syafi&#8217;i.<br />
Kelahirannya</p>
<p>Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa daerah Hauran termasuk wilayah Damaskus Syiria.<span id="more-196"></span><br />
Sifat &#8211; sifatnya</p>
<p>Beliau adalah tauladan dalam kezuhudan, wara&#8217;, dan memerintah pada yang ma&#8217;ruf dan melarang pada yang mungkar.<br />
Pertumbuhannya</p>
<p>Ayahandanya mendidik, mengajarnya, dan menumbuhkan kecintaan kepada ilmu sejak usia dini. Beliau mengkhatamkan Al Qur&#8217;an sebelum baligh. Ketika Nawa tempat kelahirannya tidak mencukupi kebutuhannya akan ilmu, maka ayahandanya membawanya ke Damaskus untuk menuntut ilmu, waktu itu beliau berusia 19 tahun. Dalam waktu empat setengah bulan beliau hafal Tanbih oleh Syairazi, dan dalam waktu kurang dari setahun hafal Rubu&#8217; Ibadat dari kitab muhadzdzab.</p>
<p>Setiap hari beliau menelaah 12 pelajaran, yaitu dua pelajaran dalam Al Wasith, satu pelajaran dalam Muhadzdzab, satu pelajaran dalam Jamu&#8217; baina shahihain, satu pelajaran dalam Shahih Muslim, satu pelajaran dalam Luma&#8217; oleh Ibnu Jinny, satu pelajaran dalam Ishlahul Manthiq, satu pelajaran dalam tashrif, satu pelajaran dalam Ushul Fiqh, satu pelajaran dalam Asma&#8217; Rijal, dan satu pelajaran dalam Ushuluddin.<br />
Guru &#8211; guru</p>
<p>Di antara guru &#8211; gurunya dalam ilmu fiqh dan ushulnya adalah Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al Maghriby, Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad Al Maqdisy, Sallar bin Hasan Al Irbily, Umar bin Indar At Taflisy, Abdurrahman bin Ibrahim Al Fazary.</p>
<p>Adapun guru &#8211; gurunya dalam bidang hadits adalah Abdurrahman bin Salim Al Anbary, Abdul Aziz bin Muhammad Al Anshory, Khalid bin Yusuf An Nabilisy, Ibrahim bin Isa Al Murady, Ismail bin Ishaq At Tanukhy, dan Abdurrahman bin Umar Al Maqdisy.</p>
<p>Adapun guru &#8211; gurunya dalam bidang Nahwu dan Lughah adalah Ahmad bin Salim Al Mishry dan Izzuddin Al Maliky.<br />
Murid &#8211; muridnya</p>
<p>Di antara murid muridnya adalah Sulaiman bin Hilal Al Ja&#8217;fary, Ahmad bin Farrah Al Isybily, Muhammad bin Ibrahim bin Jama&#8217;ah, Ali bin Ibrahim Ibnul Aththar, Syamsuddin bin Naqib, Syamsuddin bin Ja&#8217;wan dan yang lainnya.<br />
Pujian para ulama kepadanya</p>
<p>Ibnul Aththar berkata,</p>
<p>&#8220;Guru kami An Nawawi disamping selalu bermujahadah, wara&#8217;, muraqabah, dan mensucikan jiwanya, beliau adalah seorang yang hafidz terhadap hadits, bidang &#8211; bidangnya, rijalnya, dan ma&#8217;rifat shahih dan dha&#8217;ifnya, beliau juga seorang imam dalam madzhab fiqh.&#8221;</p>
<p>Quthbuddin Al Yuniny berkata,</p>
<p>&#8220;Beliau adalah teladan zamannya dalam ilmu, wara&#8217;, ibadah, dan zuhud.&#8221;</p>
<p>Syamsuddin bin Fakhruddin Al Hanbaly,</p>
<p>&#8220;Beliau adalah seorang imam yang menonjol, hafidz yang mutqin, sangat wara&#8217; dan zuhud.&#8221;<br />
Aqidahnya</p>
<p>Al Imam An Nawawi terpengaruh dengan pikiran Asy ‘ariyyah sebagaimana nampak dalam Syarh Shahih Muslim dalam mentakwil hadits &#8211; hadits tentang sifat &#8211; sifat Allah. Hal ini memiliki sebab &#8211; sebab yang banyak di antaranya ;</p>
<p>1. Terpengaruh dengan pensyarah Shahih Muslim yang sebelumnya seperti Qadhi Iyadh, Maziry, dan yang lainnya, karena beliau banyak menukil dari mereka ketika mensyarah Shahih Muslim.<br />
2. Beliau belum sempat secara penuh mengoreksi dan mentahqiq tulisan &#8211; tulisannya, tetapi beliau tidak mengikuti semua pemikiran Asy&#8217;ariyyah bahkan menyelisihi mereka dalam banyak masalah.<br />
3. Beliau tidak banyak mendalami masalah Asma&#8217; wa Sifat, sehingga banyak terpengaruh dengan pemikiran Aay&#8217;ariyyah yang berkembang pesat di zamannya.</p>
<p>Di antara keadaan &#8211; keadaannya</p>
<p>Ibnul Aththar berkata,</p>
<p>&#8220;Guru kami An Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia &#8211; nyiakan waktu , tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan sampai di jalan beliau terus dalam menelaah dan manghafal.&#8221;</p>
<p>Rasyid bin Mu&#8217;aliim berkata,</p>
<p>&#8220;Syaikh Muhyiddin An Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minumya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah &#8211; buahan dan mentimun karena takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur, beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur.&#8221;<br />
Kitab-kitabnya</p>
<p>Di antara tulisan &#8211; tulisannya dalam bidang hadits adalah Syarah Shahih Muslim, Al Adzkar, Arba&#8217;in, Syarah Shahih Bukhary, Syarah Sunan Abu Dawud, dan Riyadhus Shalihin.</p>
<p>Diantara tulisan &#8211; tulisannya dalam bidang ilmu Al Qur&#8217;an adalah At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur&#8217;an.<br />
Wafat</p>
<p>Al Imam An Nawawi wafat di Nawa pada 24 Rajab tahun 676 H dalam usia 45 tahun dan dikuburkan di Nawa. semoga Allah meridhoinya dan menempatkannya dalam keluasan jannahNya.</p>
<p>Sumber: Tadzkiratul Huffadzoleh Adz Dzahaby 4 / 1470 &#8211; 1473 dan Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir 13/230 &#8211; 231.</p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/imam-an-nawawi/">http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/imam-an-nawawi/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=196&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-an-nawawi-631-676h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam al-Muzanniy (wafat 264H)</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-al-muzanniy-wafat-264h/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-al-muzanniy-wafat-264h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 06:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah saudara wanita dari al-Muzanniy, sahabat Imam asy-Syafi&#8217;iy. Namanya anonim alias tidak dikenal.
Nampaknya beliau juga pernah menghadiri majlis pengajian yang diadakan oleh Imam asy-Syafi&#8217;iy dan kajian-kajian fiqihnya.
Imam ar-Râfi&#8217;iy telah menukil dari dalam masalah zakat barang tambang&#8230;Dia telah menyebutkan pendapat yang shahih bahwa persyaratan Haul (putaran setahun penuh) pada barang tambang tidak disyaratkan&#8230;Kemudian dia berkata, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=192&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beliau adalah saudara wanita dari al-Muzanniy, sahabat Imam asy-Syafi&#8217;iy. Namanya anonim alias tidak dikenal.</p>
<p>Nampaknya beliau juga pernah menghadiri majlis pengajian yang diadakan oleh Imam asy-Syafi&#8217;iy dan kajian-kajian fiqihnya.</p>
<p>Imam ar-Râfi&#8217;iy telah menukil dari dalam masalah zakat barang tambang&#8230;Dia telah menyebutkan pendapat yang shahih bahwa persyaratan Haul (putaran setahun penuh) pada barang tambang tidak disyaratkan&#8230;Kemudian dia berkata, &#8220;Di sana terdapat pendapat yang lain, yaitu bahwa persyaratan itu adalah harus. Pendapat ini dinukil oleh al-Buwaithiy juga dan diriwayatkan oleh al-Muzanniy di dalam kitabnya &#8220;al-Mukhtashar&#8221; dari orang yang dipercayainya dari asy-Syafi&#8217;iy yang kemudian menjadi pendapat pilihannya. Dia (ar-Rifa&#8217;iy) meneruskan, &#8220;Dan sebagian para pensyarah menyebutkan bahwa saudara al-Muzanniy telah meriwayatkan pendapat itu untuknya, namun dia tidak suka menyebutkan nama saudaranya tersebut.&#8221;<span id="more-192"></span></p>
<p>Al-Asnawiy berkata, &#8220;Aku tidak tahu persis kapan tahun wafatnya.&#8221; Sementara saudara lelaki wanita ini, al-Muzanniy adalah seorang Imam madzhab Syafi&#8217;iy, sahabat Imam asy-Syafi&#8217;iy sendiri yang berasal dari Mesir. Dia adalah seorang ahli zuhud, ‘alim, mujtahid dan memiliki hujjah yang kuat. Dia dinisbahkan kepada Muzayyanah &#8211; dari suku Mudlar -.</p>
<p>Dalam hal ini, Imam asy-Syafi&#8217;iy berkata, &#8220;al-Muzanniy adalah pembela madzhabku.&#8221; Dan ketika mengomentari betapa dia memiliki hujjah yang kuat, beliau berkata, &#8220;Andaikata dia mendebat syaithan, dia pasti menang!.&#8221; Al-Muzanniy memiliki beberapa karya tulis dan wafat pada tahun 264 H.</p>
<p>-ooOoo-</p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/14/imam-al-muzanniy-wafat-264h/">http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/14/imam-al-muzanniy-wafat-264h/</a></p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/14/imam-al-muzanniy-wafat-264h/"><br />
</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=192&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-al-muzanniy-wafat-264h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Asy Syaukani (wafat 172-250H)</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-asy-syaukani-wafat-172-250h/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-asy-syaukani-wafat-172-250h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 06:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Nama dan Nasabnya
Beliau adalah al Imam al Qadhi Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah asy-Syaukani, ash-Shan&#8217;ani.
Kelahiran Beliau
Beliau dilahirkan pada tengah hari 28 Dzulqa&#8217;dah 172 H di Hijratu Syaukan, Yaman.
Pertumbuhan Beliau
Beliau tumbuh di bawah asuhan ayahandanya dalam lingkungan yang penuh dengan keluhuran budi dan kesucian jiwa. Beliau belajar al-Qur&#8217;an di bawah asuhan beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=190&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nama dan Nasabnya</p>
<p>Beliau adalah al Imam al Qadhi Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah asy-Syaukani, ash-Shan&#8217;ani.<br />
Kelahiran Beliau</p>
<p>Beliau dilahirkan pada tengah hari 28 Dzulqa&#8217;dah 172 H di Hijratu Syaukan, Yaman.<br />
Pertumbuhan Beliau<span id="more-190"></span></p>
<p>Beliau tumbuh di bawah asuhan ayahandanya dalam lingkungan yang penuh dengan keluhuran budi dan kesucian jiwa. Beliau belajar al-Qur&#8217;an di bawah asuhan beberapa guru dan dikhatamkan di hadapan al-Faqih Hasan bin Abdullah al Habi dan beliau perdalam kepada para masyayikh al-Qur&#8217;an di Shan&#8217;a. Kemudian beliau menghafal berbagai matan dalam berbagai disiplin ilmu, seperti: al Azhar oleh al Imam al Mahdi, Mukhtashar Faraidh oleh al Ushaifiri, Malhatul Harm, al Kafiyah asy Syafiyah oleh Ibnul Hajib, at-Tahdzib oleh at-Tifazani, at-Talkhish fi Ulumil Balaghah oleh al Qazwaini, al Ghayah oleh Ibnul Imam, Mamhumah al Jazarifil Qira&#8217;ah, Mamhumah al Jazzar fil ‘Arudh, Adabul Bahts wal Munazharah oleh al Imam al-&#8217; Adhud.</p>
<p>Pada awal belajarnya beliau banyak menelaah kitab-kitab tarikh dan adab. Kemudian beliau menempuh perjalanan mencari riwayat hadits dengan sama dan talaqqi kepada para masyayikh hadits hingga beliau mencapai derajat imamah dalam ilmu hadits. Beliau senantiasa menggeluti ilmu hingga berpisah dari dunia dan bertemu Rabbnya.<br />
Guru-guru</p>
<p>Di antara guru-guru beliau ialah:</p>
<p>1. Ayahanda beliau yang kepadanya beliau belajar Syarah al-Azhar dan Syarah Mukhtashar al-Hariri.<br />
2. As Sayyid al Allamah Abdurrahman bin Qasim al Madaini, beliau belajar kepadanya Syarah al-Azhar.<br />
3. Al Allamah Ahmad bin Amir al Hadai, beliau belajar kepadanya Syarah al-Azhar.<br />
4. Al Allamah Ahmad bin Muhammad al-Harazi, beliau berguru kepadanya selama 13 tahun, mengambil ilmu fiqih, mengulang-ulang Syarah al Azhar dan hasyiyahnya, serta belajar bayan Ibnu Muzhaffar dan Syarah an-Nazhiri dan hasyiyahnya.<br />
5. As Sayyid al Allamah Isma&#8217;il bin Hasan, beliau belajar kepadanya al-Malhah dan Syarahnya.<br />
6. Al Allamah Abdullah bin Isma&#8217;il as-Sahmi, beliau belajar kepadanya Qawaidul I&#8217;rab dan Syarahnya serta Syarah al Khubaishi ‘alal Kafiyah dan Syarahnya.<br />
7. Al Allamah al Qasim bin Yahya al-Khaulani, beliau belajar kepadanya Syarh as Sayyid al-Mufti ‘alal Kafiyah, Syarah asy-Syafiyah li Luthfillah al Dhiyats, dan Syarah ar-Ridha ‘alal Kafiyah.<br />
8. As Sayyid al Allamah Abdullah bin Husain, beliau belajar kepadanya Syarah al fami ‘alal Kafiyah.<br />
9. Al Allamah Hasan bin Isma&#8217;il al Maghribi, beliau belajar kepadanya Syarah asy- Syamsiyyah oleh al Quthb dan Syarah al- ‘Adhud ‘alal Mukhtashar serta mendengarkan darinya Sunan Abu Dawud dan Ma&#8217;alimus Sunan.<br />
10. As Sayyid al Imam Abdul Qadir bin Ahmad, beliau belajar kepadanya Syarah Jam&#8217;ul Jawami&#8217; lil Muhalli dan Bahruz Zakhkhar serta mendengarkan darinya Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa&#8217;i, Sunan Ibnu Majah, Muwaththa Malik, dan Syifa&#8217; Qadhi ‘lyadh.<br />
11. Al Allamah Hadi bin Husain al-Qarani, beliau belajar kepadanya Syarah al-Jazariyyah.<br />
12. Al Allamah Abdurrahman bin Hasan al Akwa, beliau belajar kepadanya Syifa al Amir Husain.<br />
13. Al Allamah Ali bin Ibrahim bin Ahmad bin Amir, beliau mendengarkan darinya Shahih Bukhari dari awal hingga akhir.</p>
<p>Murid-muridnya</p>
<p>Di antara murid-murid beliau ialah: kedua putra beliau yakni al Allamah Ali bin Muhammad asy Syaukani dan al Qadhi Ahmad bin Muhammad asy Syaukani, al Allamah Husain bin Muhasin as-Sab&#8217;i al Anshari al Yamani, al Allamah Muhammad bin Hasan asy Syajni adz Dzammari, al Allamah Abdul Haq bin Fadhl al-Hindi, asy-Syarif al Imam Muhammad bin Nashir al Hazimi, Ahmad bin Abdullah al Amri, as Sayyid Ahmad bin Ali, dan masih banyak lagi.<br />
Kehidupan llmiah</p>
<p>Beliau belajar fiqih atas madzhab al Imam Zaid sehingga mumpuni. Beliau menulis dan berfatwa sehingga menjadi pakar dalam madzhab tersebut. Kemudian beliau belajar ilmu hadits sehingga melampaui para ulama di zamannya. Kemudian beliau melepaskan diri dari ikatan taklid kepada madzhab Zaidiyyah dan mencapai tingkat ijtihad.</p>
<p>Beliau menulis kitab Hadaiqil Azhar al-Mutadaffiq ‘ala Hadaiqil Azhar. Dalam kitab tersebut beliau mengkritik beberapa permasalahan dalam kitab Hadaiqil Azhar yang merupakan rujukan utama madzhab Zaidiyyah dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam kitab tersebut. Maka bergeraklah para muqallidin (orang yang selalu taklid, mengikuti pendapat orang lain tanpa berusaha mencari ilmunya red.) membela kitab tersebut sehingga terjadilah perdebatan yang panjang.</p>
<p>Tidak henti-hentinya beliau mengingatkan umat dari taklid yang tercela dan mengajak umat agar ittiba kepada dalil. Beliau menulis risalah dalam hal tersebut yang berjudul al Qaulul Mufiid fi Hukmi Taqlid.<br />
Aqidahnya</p>
<p>Aqidah beliau adalah aqidah salaf yang menetapkan sifat-sifat Alloh yang datang dalam Kitab dan Sunnah shahihah tanpa mentakwil dan mentahrif. Beliau menulis risalah dalam aqidah yang berjudul at Tuhaf bi Madzhabis Salaf.</p>
<p>Beliau gigih mendakwahi umat kepada aqidah salafiyyah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian juga, beliau selalu berusaha mensucikan aqidah dari kotoran-kotoran kesyirikan.<br />
Beliau Menjabat Sebagai Qadhi Negeri Yaman</p>
<p>Pada tahun 209 H meninggallah Qadhi Yaman, Syaikh Yahya bin Shalih asy Syajari as Sahuli. Maka Khalifah al Manshur meminta kepada al Imam asy Syaukani agar menggantikan Syaikh Yahya sebagai qadhi negeri Yaman.</p>
<p>Pada awalnya beliau menolak jabatan tersebut karena takut akan disibukkan dengan jabatan tersebut dari ilmu. Maka datanglah para ulama Shan&#8217;a kepada beliau meminta agar beliau menerima jabatan tersebut, karena jabatan tersebut adalah rujukan syar&#8217;i bagi para penduduk negeri Yaman yang dikhawatirkan akan diduduki oleh seseorang yang tidak amanah dalam agama dan keilmuannya. Akhirnya beliau menerima jabatan tersebut. Beliau menjabat sebagai Qadhi Yaman hingga beliau wafat pada masa pemerintahan tiga khalifah: al Manshur, al Mutawakkil, dan al Mahdi. Ketika beliau menjabat sebagai qadhi maka keadilan ditegakkan, kezhaliman diberi pelajaran, penyuapan dijauhkan, fanatik buta dihilangkan, dan beliau selalu mengajak umat kepada ittiba terhadap Kitab dan Sunnah.<br />
Tulisan-tulisanya</p>
<p>Di antara tulisan-tulisan beliau ialah:</p>
<p>1. Adabu Thalib wa Muntahal Arib.<br />
2. Tuhfatu Dzakirin.<br />
3. Irsyadu Tsiqat ila Ittifaqi Syarai&#8217; ‘ala Tauhid wal Ma&#8217;ad wan Nubuwat.<br />
4. Ath Thaudul Muniffil Intishaf lis Sad minasy Syarif.<br />
5. Syifaul ilal fi Hukmu Ziyadah fi Tsaman li Mujarradil Ajal.<br />
6. Syarhu Shudur fi Tahrimi Raf&#8217;il Qubur.<br />
7. Thibu Nasyr fi Masailil Asyr.<br />
8. Shawarimul Hindiyyah al Maslulah ‘alar Riyadhan Nadiyyah.<br />
9. Al Qaulush Shadiq fi Hukmil Imamil Fasiq.<br />
10. Risalah fi Haddi Safar Aladzi Yajibu Ma&#8217;ahu Qashru Shalat.<br />
11. Tasynifu Sam&#8217;i bi Ibthali Adillatil Jam&#8217;i.<br />
12. Risalah al Mukammilah fi Adillatil Basamalah.<br />
13. Iththila&#8217;u Arbabil Kamal ‘ala Ma fi Risalatil Jalal fil Hilal minal Ikhtilal.<br />
14. Tanbih Dzawil Hija ‘ala Hukmi Bai&#8217;ir Riba.<br />
15. Al Qaulul Muharrar fi Hukmi Lubsil Mu&#8217;ashfar wa Sairi Anwa&#8217;il Ahmar.<br />
16. Uqudul Zabarjad fi Jayyidi Masaili Alamati Dhamad.<br />
17. Ibthali Da&#8217;wal Ijma ‘ala Tahrimis Sama&#8217;.<br />
18. Zahrun Nasrain fi Haditsil Mu&#8217;ammarin.<br />
19. Ittihaful Maharah fil Kalam&#8217;ala Hadits: &#8220;La ‘Adwa wa La Thiyarah.&#8221;<br />
20. Uqudul Juman fi Bayani Hududil Buldan.<br />
21. Hallul Isykal fi Ijbaril Yahud ‘ala Iltiqathil Azbal.<br />
22. Al Bughyah fi Mas&#8217;alati Ru&#8217;yah.<br />
23. Irsyadul Ghabi ila Madzhabi Ahlil Bait fi Shabin Nabi.<br />
24. Raf&#8217;ul Junah an Nafil Mubah.<br />
25. Qaulul Maqbul fi Raddi Khabaril Majhul min Ghairi Shahabatir Rasul.<br />
26. Amniyyatul Mutasyawwiq ila Ma&#8217;rifati Hukmi ‘Ilmil Manthiq.<br />
27. Irsyadul Mustafid ila Daf&#8217;i Kalami Ibnu Daqiqil ‘Id fil Ithlaq wa Taqyid.<br />
28. Bahtsul Musfir an Tahrimi Kulli Muskir.<br />
29. Dawa&#8217;ul Ajil li Daf&#8217;il Aduwwi Shail.<br />
30. Durru Nadhid fi Ikhlashi Kalimati Tauhid.<br />
31. Risalah fi Wujubi Tauhidillah.<br />
32. Nailul Author Syarh Muntaqal Akhbar.<br />
33. Maqalah Fakhirah fi Ittifaqi Syarai&#8217; ‘ala Itsbati Daril Akhirah.<br />
34. Nuzhatul Ahdaq fi Ilmil Isytiqaq.<br />
35. Raf&#8217;u Ribah fi Ma Yajuzu wa Ma La Yajuzu minal Ghibah.<br />
36. Tahrirud Dalail ‘ala Miqdari Ma Yajuzu bainal Imam wal Mu&#8217;tamm minal Irtifa&#8217; wal Inkhifadh wal Bu&#8217;du wal Hail.<br />
37. Kasyful Astar fi Hukmi Syuf&#8217;ati bil Jiwar.<br />
38. Wasyyul Marqum fi Tahrimi Tahalli bidz Dzahab lir Rijal minal Umum.<br />
39. Kasyful Astar fi Ibthalil Qaul bi Fanain Nar.<br />
40. Shawarimul Haddad al Qathi&#8217;ah li ‘Alaqi Maqali Ahlil Ilhad.<br />
41. Isyraqu Nirain fi Bayanil Hukmi Idza Takhallafa ‘anil Wa&#8217;di Ahadul Khashmain.<br />
42. Hukmu Tas&#8217;ir.<br />
43. Natsrul Jauhar fi Syarhi Hadits Abi Dzar.<br />
44. Minhatul Mannan fi Ujratil Qadhi was Sajjan.<br />
45. Risalah fi Hukmil ‘Aul.<br />
46. Tanbihul Amtsal ‘ala Jawazil Isti&#8217;anah min Khalishil Mal.<br />
47. Qathrul Wali fi Ma&#8217;rifatil Wali.<br />
48. Taudhih fi Tawaturi Ma Ja&#8217;a fil Mahdil Muntazhar wad Dajjal wal Masih.<br />
49. Hukmul Ittishal bis Salathin.<br />
50. Jayyidu Naqd fi ‘Ibaratil Kasysyaf was Sa&#8217;d.<br />
51. Bughyatul Mustafid fi Raddi ‘ ala Man Ankaral Ijtihad min Ahli Taqlid.<br />
52. Radhul Wasi&#8217; fid Dalil Mani&#8217; ‘ala Adami Inhishari Ilmil Badi&#8217;.<br />
53. Fathul Khallaq fi Jawabi Masail Abdirrazaq.</p>
<p>Wafatnya</p>
<p>Al-Imam asy-Syaukani wafat pada malam Rabu 27 Jumada Tsaniyyah 250 H di Shan&#8217;a. Semoga Alloh meridhai beliau dan menempatkan beliau dalam keluasan jannah-Nya.</p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/04/imam-asy-syaukani/">http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/04/imam-asy-syaukani/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=190&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-asy-syaukani-wafat-172-250h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (wafat 656 H)</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah-wafat-656-h/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah-wafat-656-h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 06:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Nama seberanya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa&#8217;ad bin Huraiz az-Zar&#8217;i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=188&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nama seberanya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa&#8217;ad bin Huraiz az-Zar&#8217;i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di kampung Zara&#8217; dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.</p>
<p>Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya</p>
<p>Ia belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol dalam ilmu itu. Belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa&#8217; kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-kafiyah was Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur.<span id="more-188"></span></p>
<p>Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Isma&#8217;il bin Muhammad al-Harraniy.</p>
<p>Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan amat dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.</p>
<p>Pada akhirnya beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.<br />
Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya, sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.</p>
<p>Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.</p>
<p>Sebagai hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitabullah Ta&#8217;ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap bid&#8217;ah yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid&#8217;ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari hawa-hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad kemunduran, abad jumud dan taqlid buta.</p>
<p>Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.</p>
<p>Penguasaannya terhadap Ilmu Tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap Ushuluddin mencapai puncaknya dan pengetahuannya mengenai Hadits, makna hadits, pemahaman serta Istinbath-Istinbath rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.</p>
<p>Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni bahwa &#8220;Baiknya&#8221; perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syari&#8217;ah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam asy-syarifah.</p>
<p>Oleh karena itu beliau berpegang pada (prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath hukum berdasarkan petunjuk al-Qur&#8217;anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para shahabat serta apa-apa yang telah disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A&#8217;immatul Fiqhi (para imam fiqih).</p>
<p>Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa oleh Syari&#8217;ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>Beliau rahimahullah benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu, siang maupun malam dan terus banyak berdo&#8217;a.</p>
<p>Sasarannya</p>
<p>Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau telah susun semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam dan orang-orang dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji Islam telah berkibar di semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman, tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam kesumat dan bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini sengaja melancarkan syubhat (pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap ayat-ayat al-Qur&#8217;anul Karim.</p>
<p>Mereka banyak membuat penafsiran, ta&#8217;wil-ta&#8217;wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud menyebarluaskan kekaburan, bid&#8217;ah dan khurafat di tengah kaum Mu&#8217;minin.</p>
<p>Maka adalah satu keharusan bagi para A&#8217;immatul Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-ketentuan hukum syari&#8217;ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman Allah Ta&#8217;ala: &#8220;Dan Kami turunkan Al Qur&#8217;an kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.&#8221; (an-Nahl:44).</p>
<p>Juga firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Dan apa-apa yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.&#8221; (al-Hasyr:7).</p>
<p>Murid-Muridnya</p>
<p>Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan melayani dialog. Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi&#8217;i, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi&#8217;i dan lain-lain.</p>
<p>Aqidah Dan Manhajnya</p>
<p>Adalah Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran apapun, itulah sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran wujudnya Allah Ta&#8217;ala, beliau ikuti manhaj al-Qur&#8217;anul Karim sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang benar. Beliau -rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan teori-teori kaum filosof.</p>
<p>Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan, &#8220;Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya -baik alam bawah maupun- alam atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu memberikan kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang Pemiliknya. Mengingkari adanya Pencipta yang telah diakui oleh akal dan fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya. Bahwa telah dimaklumi; adanya Rabb Ta&#8217;ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah dibandingkan dengan adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian, berarti akal dan fitrahnya perlu dipertanyakan.&#8221;</p>
<p>Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa kegoncangan dan kekacauan (pemikiran Umat Islam-Pent.) di samping adanya kekacauan dari luar yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda lihat Ibnul Qayyim waktu itu memerintahkan untuk membuang perpecahan sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang kepada Kitabullah Ta&#8217;ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang suci dan murni, tidak terkotori oleh ra&#8217;yu-ra&#8217;yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa&#8217; wal bida&#8217; (Ahli Bid&#8217;ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.</p>
<p>Oleh sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada itu, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi beliau mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa&#8217;id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah Ta&#8217;ala,<br />
&#8220;Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itulah yang haq.&#8221; (Saba&#8217;:6).</p>
<p>Qotadah mengatakan, &#8220;Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.&#8221;</p>
<p>Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.</p>
<p>Kendatipun beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan madzhab-madzhab yang masyhur.</p>
<p>Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya.</p>
<p>Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa berjalan bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari&#8217; adalah al-Qur&#8217;an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat manakala melakukan suatu penelitian dan manakala sedang berargumentasi.</p>
<p>Di antara da&#8217;wahnya yang paling menonjol adalah da&#8217;wah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi.</p>
<p>Adapun cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma&#8217; Fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari&#8217;ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui baik).</p>
<p>Ujian Yang Dihadapi</p>
<p>Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan menjadi penentang segenap bid&#8217;ah yang telah mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh orang-orang semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya.</p>
<p>Orang-orang pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra. Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-Qal&#8217;ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.</p>
<p>Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera dengan cambuk.</p>
<p>Pada saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca al-Qur&#8217;an, tadabbur dan tafakkur. Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah tetap konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.</p>
<p>Pujian Ulama Terhadapnya</p>
<p>Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal, sangat cinta pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya sepanjang masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan kesaksian akan keilmuan, kewara&#8217;an, ketinggian martabat serta keluasan wawasannya.</p>
<p>Ibnu Hajar pernah berkata mengenai pribadi beliau, &#8220;Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab salaf.&#8221;</p>
<p>Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, &#8220;Beliau seorang yang bacaan Al-Qur&#8217;an serta akhlaqnya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku&#8217; serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.&#8221;</p>
<p>Ibnu Katsir berkata lagi, &#8220;Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untuk dzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.&#8217; Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukan imamah dalam hal din (agama).&#8217;&#8221;</p>
<p>Ibnu Rajab pernah menukil dari adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabi mengatakan, &#8220;Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan penelitian terhadap rijalul hadits (para perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.&#8221;</p>
<p>Tsaqafahnya</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh. Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.</p>
<p>Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.</p>
<p>Karya-Karyanya</p>
<p>Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal sebagai orang yang mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras demi pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya banyak sekali, baik yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis banyak hal dengan tulisan tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain hanya mampun menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai kitab. Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab berbobot dalam pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya dilengkapi dengan gaya bahasa nan menarik.</p>
<p>Beberapa Karyanya</p>
<p>1. Tahdzib Sunan Abi Daud,<br />
2. I&#8217;lam al-Muwaqqi&#8217;in ‘an Rabbil ‘Alamin,<br />
3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,<br />
4. Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,<br />
5. Bada I&#8217;ul Fawa&#8217;id,<br />
6. Amtsalul Qur&#8217;an,<br />
7. Buthlanul Kimiya&#8217; min Arba&#8217;ina wajhan,<br />
8. Bayan ad-Dalil &#8216;ala istighna&#8217;il Musabaqah ‘an at-Tahlil,<br />
9. At-Tibyan fi Aqsamil Qur&#8217;an,<br />
10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris,<br />
11. Safrul Hijratain wa babus Sa&#8217;adatain,<br />
12. Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na&#8217;budu wa Iyyaka nasta&#8217;in,<br />
13. Aqdu Muhkamil Ahya&#8217; baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu&#8217; ila Rabbis Sama&#8217;<br />
14. Syarhu Asma&#8217;il Kitabil Aziz,<br />
15. Zaadul Ma&#8217;ad fi Hadyi Kairul Ibad,<br />
16. Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su&#8217;ada&#8217; fi Hadyi Khatamil Anbiya&#8217;<br />
17. Jala&#8217;ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,.<br />
18. Ash-Shawa&#8217;iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu&#8217;aththilah,<br />
19. Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah,<br />
20. Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul,<br />
21. Hadi al-Arwah ila biladil Arrah,<br />
22. Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin,<br />
23. al-Jawabul Kafi Li man sa`ala &#8216;anid Dawa`is Syafi,<br />
24. Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,<br />
25. Miftah daris Sa&#8217;adah,<br />
26. Ijtima&#8217;ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu&#8217;aththilah,<br />
27. Raf&#8217;ul Yadain fish Shalah,<br />
28. Nikahul Muharram,<br />
29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,<br />
30. Fadl-lul Ilmi,<br />
31. ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin,<br />
32. al-Kaba&#8217;ir,<br />
33. Hukmu Tarikis Shalah,<br />
34. Al-Kalimut Thayyib,<br />
35. Al-Fathul Muqaddas,<br />
36. At-Tuhfatul Makkiyyah,<br />
37. Syarhul Asma il Husna,<br />
38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,<br />
39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim,<br />
40. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,<br />
41. Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang digemari oleh berbagai pihak.</p>
<p>Wafatnya</p>
<p>Ibnul-Qoyyim meninggal dunia pada waktu isya&#8217; tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid Jami&#8217; Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami&#8217; Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.</p>
<p>Sumber:<br />
1. Al-Bidayah wan Nihayah libni Katsir,<br />
2. Muqaddimah Zaadil Ma&#8217;ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu&#8217;ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth,<br />
3. Muqaddimah I&#8217;lamil Muwaqqi&#8217;in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra&#8217;uf Sa&#8217;d,<br />
4. Al-Badrut Thali&#8217; Bi Mahasini ma Ba&#8217;dal Qarnis Sabi&#8217; karya Imam asy-Syaukani,<br />
5. Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad,<br />
6. Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani,<br />
7. Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali,<br />
8. Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi,<br />
9. Bughyatul Wu&#8217;at karya Suyuthi,<br />
10. Jala&#8217;ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi,</p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah/">http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=188&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah-wafat-656-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Al Ajurri (wafat tahun 419H)</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-al-ajurri-wafat-tahun-419h/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-al-ajurri-wafat-tahun-419h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 06:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Nama dan Nasabnya
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al Baghdadi Al Ajurri. Kunyah beliau Abu Bakr. Beliau berasal dari sebuah desa di bagian barat kota Baghdad yang bernama Darbal Ajur. Beliau lahir dan tumbuh di sana.
Guru-guru
Imam Al Ajurri menimba ilmu dari segolongan ulama terkenal, di antaranya :
1. Imam Ibrahim bin Abdillah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=181&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nama dan Nasabnya</p>
<p>Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al Baghdadi Al Ajurri. Kunyah beliau Abu Bakr. Beliau berasal dari sebuah desa di bagian barat kota Baghdad yang bernama Darbal Ajur. Beliau lahir dan tumbuh di sana.</p>
<p>Guru-guru</p>
<p>Imam Al Ajurri menimba ilmu dari segolongan ulama terkenal, di antaranya :<span id="more-181"></span></p>
<p>1. Imam Ibrahim bin Abdillah bin Muslim bin Ma&#8217;iz Abul Muslim Al Bashri Al Kajji. Beliau adalah Al Hafidh [Orang yang banyak menghapal hadits lengkap dengan pengertian dan sanadnya], Al Mu&#8217;ammar, Shahibus Sunan [Penulis kitab Sunan]. Imam ini adalah guru terbesar Imam Al Ajurri. Syaikh Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 190 H dan wafat tahun 292 H di Baghdad. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Bashrah dan dimakamkan di sana.</p>
<p>2. Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin Al Faizuran Al Usynani. Beliau adalah Syaikhul Qurra&#8217; [Pemimpin para pembaca Al Qur'an] di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 307 H.</p>
<p>3. Imam Abu Abdillah Ahmad bin Al Hasan bin Abdil Jabbar bin Rasyid Al Baghdadi. Beliau bergelar Al Muhadits [Ahli Hadits] Ats Tsiqatul Mu&#8217;ammar. Beliau dilahirkan di Hudud tahun 210 H dan wafat tahun 306 H.</p>
<p>4. Imam Abu Bakr Ja&#8217;far bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Mustafadl Al Firyani. Beliau adalah Al Hafidh Ats Tsabt [Tepat dan jeli dalam penyampaian riwayat] dan Syaikh di masanya. Beliau lahir pada tahun 207 H dan wafat pada tahun 301 H.</p>
<p>5. Imam Abu Bakr Al Qasim bin Zakaria bin Yahya Al Baghdadi. Beliau adalah Al ‘Allamah [‘Alim (pandai)], Al Muqri&#8217; [Ahli Ilmu Qira'ah], Al Muhadits, Ats Tsiqah [Yang terpecaya]. Beliau terkenal dengan gelar Al Muthariz (penyulam). Beliau lahir di Hudud tahun 220 H dan wafat tahun 305 H.</p>
<p>6. Imam Abu Ja&#8217;far Ahmad bin Yahya bin Ishaq Al Bajali Al Hulwani. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqah, Az Zahid [Yang zuhud]. Beliau tinggal di Baghdad dan wafat tahun 296 H.</p>
<p>7. Imam Abul Abbas Ahmad bin Zanjuwiyah bin Musa Al Qathan. Beliau adalah Al Muhadits, Al Mutqin [Yang mantap], dianggap tsiqah dan terkenal. Beliau wafat tahun 304 H.</p>
<p>8. Imam Abul Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdil Aziz bin Al Marzuban. Beliau adalah Al Hafidh, Al Hujjatul Mu&#8217;ammar, dan Al Musnid [Penulis kitab Musnad] di masanya. Berasal dari Bagha&#8217; dan lahir pada tahun 214 H dan bertempat tinggal di Baghdad serta wafat tahun 317 H. Beliau dikebumikan pada hari Iedul Fithri.</p>
<p>9. Imam Abu Syu&#8217;aib Abdullah bin Al Hasan bin Ahmad bin Abu Syu&#8217;aib Al Harrani. Beliau adalah Al Muhadits, Al Mu&#8217;ammar, Al Mu&#8217;dab. Lahir tahun 206 H dan wafat tahun 295 H.</p>
<p>10. Imam Abu Muhammad Khalaf bin ‘Amr Al ‘Ukbari. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqatul Jalil [Yang mulia dan dapat dipercaya]. Beliau lahir tahun 206 H dan wafat tahun 296 H.</p>
<p>11. Al Imam Abu Bakr Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy&#8217;ats As Sijistani. Beliau adalah Al ‘Allamah, Al Hafidh, dan Syaikh di Baghdad. Beliau termasuk lautan ilmu. Sebagian orang ada yang menganggap bahwa beliau lebih utama daripada ayahnya. Beliau menulis Sunan, Mushaf, Syari&#8217;atul Qari&#8217;, Nasikh Mansukh, Al Ba&#8217;ts, dan lain-lain. Beliau lahir di Sijistan tahun 230 H dan wafat tahun 316 H.</p>
<p>Murid-Muridnya</p>
<p>Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah :</p>
<p>1. Imam Abu Nu&#8217;aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al Mihrani Al Ashbahani. Beliau adalah Al Hafidh, Ats Tsiqah, Al ‘Allamah. Beliau adalah cucu Az Zahid Muhammad bin Yusuf Al Banna&#8217;. Beliau adalah penulis kitab Al Hilyah dan banyak karya lainnya. Beliau lahir tahun 336 H dan wafat tahun 425 H.</p>
<p>2. Imam Abul Qasim Abdul Malik Muhammad bin Abdillah bin Bisyran. Beliau adalah Al Muhaddits, Al Musnid, Ats Tsiqah, Ats Tsabt, Ash Shalih [Orang yang shalih], Pemberi Nasihat, dan Musnid Irak. Beliau lahir tahun 339 H dan wafat tahun 430 H.</p>
<p>3. Imam Abul Husein Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran. Beliau adalah Asy Syaikh, Al ‘Alim, Al Mu&#8217;adil, Al Musnid. Al Khatib berkata tentang beliau : &#8220;Dia sempurna muru&#8217;ah [Kewibawaan]-nya, kokoh menjalankan agama, shaduq [Sangat jujur], dan tsabit.&#8221; Beliau lahir tahun 328 H dan wafat tahun 415 H.</p>
<p>4. Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Umar At Tajibi Al Mishri Al Maliki Al Bazzaz. Beliau adalah Asy Syaikh, Al Fakih, Al Muhadits, Ash Shaduq, dan Musnid Mesir. Beliau terkenal dengan gelar Ibnu Nahhas. Beliau lahir tahun 323 H dan wafat tahun 416 H.</p>
<p>5. Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Umar bin Hafsh Al Hamami Al Baghdadi. Beliau adalah Al Muhadits dan Muqri&#8217; Irak. Al Khatib mengatakan bahwa beliau sangat jujur, taat beragama, terhormat, sulit dicari tandingannya dalam sanad-sanad qira&#8217;ah dan memiliki ketinggian sanad di masanya. Lahir 328 H dan wafat 417 H.</p>
<p>6. Al Imam Abu Bakr bin Abu Ali Ahmad bin Abdurrahman Al Hamadani Adz Dzakwan Al Ashbahani. Beliau adalah Al ‘Alim, Al Hafidh, dan termasuk Rijal Ats Tsiqah. Abu Nu&#8217;aim mengatakan tentang beliau : &#8220;Dia mempersaksikan dan menyampaikan hadits selama 60 tahun, akhlaknya baik dan kokoh madzhabnya. Beliau lahir tahun 333 H dan wafat tahun 419 H.</p>
<p>7. Syaikh Abul Husein Muhammad bin Al Husein bin Muhammad bin Al Fadl Al Baghdadi Al Qahthani. Beliau adalah Al ‘Alim, Ats Tsiqat, Al Musnid [Orang yang menjadi rujukan sanad hadits]. Beliau lahir tahun 335 H dan wafat tahun 415 H.</p>
<p>Keilmuan Beliau Dan Komentar Para Ulama Tentangnya</p>
<p>1. Ibnu Nadim berkata : &#8220;Dia faqih, shalih, dan ahli ibadah.&#8221;</p>
<p>2. Al Khatib berkata : &#8220;Dia tsiqah, shaduq (sangat jujur), taat beragama, dan memiliki banyak karya.&#8221;</p>
<p>3. Ibnu Jalkan berkata : &#8220;Dia faqih, bermadzhab Syafi&#8217;i, muhadits, penulis kitab Arba&#8217;in dan terkenal dengannya, shalih dan ahli ibadah.&#8221;</p>
<p>4. Yaqut berkata : &#8220;Dia faqih bermadzhab Syafi&#8217;i, tsiqah, dan menulis banyak karya.&#8221;</p>
<p>5. Ibnul Jauzi dalam kitab As Shawatus Shafwah mengatakan : &#8220;Dia tsiqah, taat beragama, alim, dan banyak menulis karya.&#8221;</p>
<p>6. Ibnu Subki dalam Thabaqat-nya mengatakan : &#8220;Dia faqih, muhadits, pemilik beberapa karangan.&#8221;</p>
<p>7. Dzahabi dalam Siyar A&#8217;lamin Nubala&#8217; berkata : &#8220;Dia seorang imam, muhadits, panutan, Syaikh di Al Haram, shaduq, ‘abid [Ahli ibadah], shahibus sunan, dan ahli ittiba&#8217; [Pengikut sunnah].&#8221;</p>
<p>8. Suyuthi mengatakan : &#8220;Dia ‘alim dan mengamalkan ilmu ahli sunnah.&#8221;</p>
<p>Dari ucapan para ulama di atas diketahui bahwa beliau termasuk ulama yang beramal dengan ilmunya, seorang faqih yang ahli hadits, serta penjaga Kitabullah. Para ulama tersebut juga sepakat bahwa beliau termasuk orang yang tsiqat dan berpegang teguh dengan sunnah. Beliau juga seorang pengarang yang meninggalkan pengaruh yang jelas dalam perbendaharaan Islam.</p>
<p>Karya-Karya</p>
<p>Imam Al Ajurri mewariskan beberapa karya diantaranya yang telah dicetak: Akhlaq Ahlil Qur&#8217;an, Akhlaqul Ulama, Akhbar Umar bin Abdil Aziz, Al Arba&#8217;in Haditsan, Al Ghuraba&#8217;, Tahrimun Nard was Satranji wal Malahi, Asy Syari&#8217;ah, At Tashdiq bin Nadhar Ilallah.</p>
<p>Berupa Manuskrip (Tulisan Tangan): Adabun Nufus, Ats Tsamainin fil Hadits, Juz&#8217;un min Hikayat As Syafi&#8217;i wa Ghairihi, Fardlu Thalabil Ilmi, Al Fawaid Al Muntakhabah, Wushulul Masyaqin wa Nuzhatul Mustami&#8217;in.</p>
<p>Karaya-karya beliau yang Hilang: Ahkamun Nisa&#8217;, Akhlaq Ahli Bir wat Tuqa, Aushafus Sab&#8217;ah, Taghyirul Azminah, At Tafarud wal ‘Uzlah, At Tahajud, At Taubah, Husnul Khuluq, Ar Ru&#8217;yah, Ruju&#8217; Ibni Abbas ‘anis Sharf, Risalah ila Ahlil Baghdad, Syarah Qasidah As Sijistani, As Syubuhat, Qishatul Hajaril Aswad wa Zam-Zam wa Ba&#8217;du Sya&#8217;niha, Qiyamul Lail wa Fadllu Qiyamir Ramadlan, Fadllul Ilmi, Mukhtasharul Fiqh, Mas&#8217;alatut Tha&#8217;ifin, An Nasihah.</p>
<p>Wafatnya</p>
<p>Sebagian para ulama mengatakan bahwa ketika beliau masuk ke kota Mekkah yang beliau kagumi, beliau berdo&#8217;a : &#8220;Ya Allah, berilah rezki kepadaku dengan tinggal di sana selama setahun.&#8221; Lalu beliau mendengar bisikan: &#8220;Bahkan 30 tahun!&#8221; Akhirnya beliau tinggal selama 30 tahun dan wafat di sana tahun 320 H. demikian keterangan Ibnu Khalqan.</p>
<p>Al Khatib berkata: &#8220;Aku membaca cerita itu di lantai kubur beliau di Mekkah.&#8221; Ibnul Jauzi berkata bahwa Abu Suhail Mahmud bin Umar Al Akbari berkata bahwa ketika Abu Bakr sampai di Mekkah dia merasa kagum dengannya dan berdo&#8217;a: &#8220;Ya Allah, hidupkan aku di negeri ini walau hanya setahun.&#8221; Tiba-tiba ia mendengar bisikan: &#8220;Hai Abu Bakr, kenapa hanya setahun? Tiga puluh tahun!&#8221; Ketika menginjak tahun ketiga puluh, beliau mendengar bisikan lagi: &#8220;Wahai Abu Bakr, sudah kami tunaikan janji itu.&#8221; Kemudian wafatlah beliau di tahun itu.</p>
<p>Madzhabnya</p>
<p>Beliau bermadzhab Syafi&#8217;i menurut sebagian ulama. Namun ulama lain seperti Al Isnawi mengatakan bahwa sebagian orang membantah ke-Syafi&#8217;i-an beliau dan mengatakan bahwa beliau bermadzhab Hanbali. Al Isnawi mengatakan hal itu setelah dia mengatakan bahwa Imam Al Ajurri pengikut madzhab Syafi&#8217;i. Demikian pula keterangan Abu Ya&#8217;la dalam kitab beliau Tabaqat Al Hanabilah.</p>
<p>Sumber-Sumber Biografi Beliau</p>
<p>Riwayat hidup beliau yang penuh barakah ditulis dalam beberapa kitab para ulama. Di antaranya: Al Fahrasat. Ibnu Nadim halaman 268., Tarikh Baghdad. Al Khatib 2/243., Tabaqatul Hanabilah. Ibnu Abi Ya&#8217;la halaman 332., Al Ansab. As Sam&#8217;ani 1/94., Fahrasah Ibni Khairil Isybaili. Halaman 285-286., Wafiyatul A&#8217;yan. Ibnu Khukan 4/292., Mu&#8217;jamul Buldan. Yaqut Al Hamawi 1/51., Siyar A&#8217;lamin Nubala&#8217;. Adz Dzahabi 16/133., Thabaqatus Syafi&#8217;iyah. Al Isnawi 1/50., Al ‘Aqduts Tsamin. Al Fasi 2/4., Thabaqatul Hufadh. As Suyuthi halaman 378., Syajaratudz Dzahab. Ibnul ‘Imad 3/35.</p>
<p>Disalin dari Ghuraba&#8217; minal Mukminin, Al Ajurri</p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/25/imam-al-ajurri/">http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/25/imam-al-ajurri/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=181&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-al-ajurri-wafat-tahun-419h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Asy-Syafi’i</title>
		<link>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-asy-syafi%e2%80%99i/</link>
		<comments>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-asy-syafi%e2%80%99i/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 06:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rijaluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rijalwannab.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza ) di bumi Palestina, pada th. 150 H (bertepatan dengan th. 694 M) lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia, Idris bin Abbas Asy-Syafi`ie dengan seorang wanita dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya dinamai Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie . [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=179&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza ) di bumi Palestina, pada th. 150 H (bertepatan dengan th. 694 M) lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia, Idris bin Abbas Asy-Syafi`ie dengan seorang wanita dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya dinamai Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie . Demikian nama lengkapnya sang bayi itu. Namun kebahagiaan keluarga miskin ini dengan kelahiran bayi tersebut tidaklah berlangsung lama. Karena beberapa saat setelah kelahiran itu, terjadilah peristiwa menyedihkan, yaitu ayah sang bayi meninggal dunia dalam usia yang masih muda. Bayi lelaki yang rupawan itu pun akhirnya hidup sebagai anak yatim.</p>
<p>Sang ibu sangat menyayangi bayinya, sehingga anak yatim Quraisy itu tumbuh sebagai bayi yang sehat. Maka ketika ia telah berusia dua tahun, dibawalah oleh ibunya ke Makkah untuk tinggal di tengah keluarga ayahnya di kampung Bani Mutthalib. Karena anak yatim ini, dari sisi nasab ayahnya, berasal dari keturunan seorang Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang bernama Syafi&#8217; bin As-Sa&#8217;ib. Dan As-Sa&#8217;ib ayahnya Syafi&#8217;, sempat tertawan dalam perang Badr sebagai seorang musyrik kemudian As-Sa&#8217;ib menebus dirinya dengan uang jaminan untuk mendapatkan status pembebasan dari tawanan Muslimin. Dan setelah dia dibebaskan, iapun masuk Islam di tangan Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Maka nasab bayi yatim ini secara lengkap adalah sebagai berikut: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi&#8217; bin As-Sa&#8217;ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka&#8217;ab bin Lu&#8217;ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma&#8217;ad bin Adnan. Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa&#8217;, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa&#8217;ib, ayahnya Syafi&#8217;. Kepada Syafi&#8217; bin As-Sa&#8217;ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.&#8221; (HR. Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 &#8211; 66).<span id="more-179"></span></p>
<p>Di lingkungan Bani Al-Mutthalib, dia tumbuh menjadi anak lelaki yang penuh vitalitas. Di usia kanak-kanaknya, dia sibuk dengan latihan memanah sehingga di kalangan teman sebayanya, dia amat jitu memanah. Bahkan dari sepuluh anak panah yang dilemparkannya, sepuluh yang kena sasaran, sehingga dia terkenal sebagai anak muda yang ahli memanah. Demikian terus kesibukannya dalam panah memanah sehingga ada seorang ahli kedokteran medis waktu itu yang menasehatinya. Dokter itu menyatakan kepadanya: &#8220;Bila engkau terus menerus demikian, maka sangat dikuatirkan akan terkena penyakit luka pada paru-parumu karena engkau terlalu banyak berdiri di bawah panas terik mata hari.&#8221; Maka mulailah anak yatim ini mengurangi kegiatan panah memanah dan mengisi waktu dengan belajar bahasa Arab dan menekuni bait-bait sya&#8217;ir Arab sehingga dalam sekejab, anak muda dari Quraisy ini menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya&#8217;irnya dalam usia kanak-kanak. Di samping itu dia juga menghafal Al-Qur&#8217;an, sehingga pada usia tujuh tahun telah menghafal di luar kepala Al-Qur&#8217;an keseluruhannya.</p>
<p>Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya&#8217;irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama&#8217; fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah. Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi&#8217;, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah. Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa&#8217;id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama&#8217; fiqih sebagaimana tersebut di atas. Ia pun demi kehausan ilmu, akhirnya berangkat dari Makkah menuju Al-Madinah An Nabawiyah guna belajar di halaqah Imam Malik bin Anas di sana. Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha&#8217; . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah. Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: &#8220;Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.&#8221; Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: &#8220;Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.&#8221; Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha&#8217; Imam Malik sehingga beliau menyatakan: &#8220;Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur&#8217;an, lebih dari kitab Al-Muwattha&#8217; .&#8221; Beliau juga menyatakan: &#8220;Aku tidak membaca Al-Muwattha&#8217; Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.&#8221; Dari berbagai pernyataan beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama&#8217; yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa&#8217;ad, Isma&#8217;il bin Ja&#8217;far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Beliau banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.</p>
<p>Ketika Muhammad bin Idris As-Syafi&#8217;i Al-Mutthalibi Al-Qurasyi telah berusia dua puluh tahun, dia sudah memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan Ulama&#8217; di jamannya dalam berfatwa dan berbagai ilmu yang berkisar pada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Tetapi beliau tidak mau berpuas diri dengan ilmu yang dicapainya. Maka beliaupun berangkat menuju negeri Yaman demi menyerap ilmu dari para Ulama&#8217;nya. Disebutkanlah sederet Ulama&#8217; Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau mengambil ilmu dari Isma&#8217;il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.</p>
<p>Sejak di kota Baghdad, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie mulai dikerumuni para muridnya dan mulai menulis berbagai keterangan agama. Juga beliau mulai membantah beberapa keterangan para Imam ahli fiqih, dalam rangka mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Kitab fiqih dan Ushul Fiqih pun mulai ditulisnya. Popularitas beliau di dunia Islam yang semakin luas menyebabkan banyak orang semakin kagum dengan ilmunya sehingga orang pun berbondong-bondong mendatangi majelis ilmu beliau untuk menimba ilmu. Tersebutlah tokoh-tokoh ilmu agama ini yang mendatangi majelis beliau untuk menimba ilmu padanya seperti Abu Bakr Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi (beliau ini adalah salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari), Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Hanbal (yang kemudian terkenal dengan nama Imam Hanbali), Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi, Abu Ya&#8217;qub Yusuf Al-Buaithi, Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi, Harmalah bin Yahya, Musa bin Abil Jarud Al-Makki, Abdul Aziz bin Yahya Al-Kinani Al-Makki (pengarang kitab Al-Haidah ), Husain bin Ali Al-Karabisi (beliau ini sempat di tahdzir oleh Imam Ahmad karena berpendapat bahwa lafadh orang yang membaca Al-Qur&#8217;an adalah makhluq), Ibrahim bin Al-Mundzir Al-Hizami, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za&#8217;farani, Ahmad bin Muhammad Al-Azraqi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu yang lainnya. Dari murid-murid beliau di Baghdad, yang paling terkenal sangat mengagumi beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal atau terkenal dengan gelar Imam Hanbali.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Mizzi dengan sanadnya bersambung kepada Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali). Beliau menceritakan: &#8220;Aku pernah bertanya kepada ayahku: &lt;Wahai ayah, siapa sesungguhnya As-Syafi`ie itu, karena aku terus-menerus mendengar ayah mendoakannya?&gt; Maka ayahku menjawab: &lt;Wahai anakku, sesungguhnya As-Syafi`ie itu adalah bagaikan matahari untuk dunia ini, dan ia juga sebagai kesejahteraan bagi sekalian manusia. Maka silakan engkau cari, adakah orang yang seperti beliau dalam dua fungsi ini (yakni fungsi sebagai matahari dan kesejahteraan) dan adakah pengganti fungsi beliau tersebut?&gt;.&#8221; Diriwayatkan pula bahwa Sulaiman bin Al-Asy&#8217;ats menyatakan: &#8220;Aku melihat bahwa Ahmad bin Hanbal tidaklah condong kepada seorangpun seperti condongnya kepada As-Syafi`ie.&#8221; Al-Maimuni meriwayatkan bahwa Imam Hanbali menyatakan: &#8220;Aku tidak pernah meninggalkan doa kepada Allah di sepertiga terakhir malam untuk enam orang. Salah satunya ialah untuk As-Syafi`ie.&#8221; Diriwayatkan pula oleh Imam Shalih bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali): &#8220;Pernah ayahku berjalan di samping keledai yang ditumpangi Imam Syafi`ie untuk bertanya-tanya ilmu kepadanya. Maka melihat demikian, Yahya bin Ma&#8217;ien sahabat ayahku mengirim orang untuk menegur beliau. Yahya menyatakan kepadanya: &lt;Wahai Aba Abdillah ( kuniah bagi Imam Hanbali), mengapa engkau ridla untuk berjalan dengan keledainya As-Syafi`ie?&gt;. Maka ayah pun menyatakan kepada Yahya: &lt;Wahai Aba Zakaria ( kuniah bagi Yahya bin Ma&#8217;ien), seandainya engkau berjalan di sisi lain dari keledai itu, niscaya akan lebih bermanfaat bagimu&gt;.&#8221; Di samping Imam Hanbali yang sangat mengaguminya, juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh nya dengan sanadnya dari Abu Tsaur. Dia menceritakan: &#8220;Abdurrahman bin Mahdi pernah menulis surat kepada As-Syafi`ie, dan waktu itu As-Syafi`ie masih muda belia. Dalam surat itu Abdurrahman meminta kepadanya untuk menuliskan untuknya sebuah kitab yang terdapat padanya makna-makna Al Qur&#8217;an, dan juga mengumpulkan berbagai macam tingkatan hadits, keterangan tentang kedudukan ijma&#8217; (kesepakatan Ulama&#8217;) sebagai hujjah / dalil, keterangan hukum yang nasikh (yakni hukum yang menghapus hukum lainnya) dan hukum yang mansukh (yakni hukum yang telah dihapus oleh hukum yang lainnya), baik yang ada di dalam Al-Qur&#8217;an maupun As-Sunnah. Maka As-Syafi`ie muda menuliskan untuknya kitab Ar-Risalah dan kemudian dikirimkan kepada Abdurrahman bin Mahdi. Begitu membaca kitab Ar-Risalah ini, Abdurrahman menjadi sangat kagum dan sangat senang kepada As-Syafi`ie sehingga beliau menyatakan: &#8220;Setiap aku shalat, aku selalu mendoakan As-Syafi`ie.&#8221; Kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi`ie akhirnya menjadi kitab rujukan utama bagi para Ulama&#8217; dalam ilmu Ushul Fiqih sampai hari ini. Pujian para Ulama&#8217; dan kekaguman mereka bukan saja datang dari orang-orang yang seangkatan dengan beliau dalam ilmu, akan tetapi datang pula pujian itu dari para Ulama&#8217; yang menjadi guru beliau. Antara lain ialah Sufyan bin Uyainah, salah seorang guru beliau yang sangat dikaguminya. Sebaliknya Sufyan pun sangat mengagumi Imam As-Syafi`ie, sampai diceritakan oleh Suwaid bin Saied sebagai berikut: &#8220;Aku pernah duduk di majelis ilmunya Sufyan bin Uyainah. As-Syafi`ie datang ke majelis itu, masuk sembari mengucapkan salam dan langsung duduk untuk mendengarkan Sufyan yang sedang menyampaikan ilmu. Waktu itu Sufyan sedang membaca sebuah hadits yang sangat menyentuh hati. Betapa lembutnya hati beliau saat mendengar hadits itu menyebabkan As-Syafi`ie mendadak pingsan. Orang-orang di majelis itu menyangka bahwa As-Syafi`ie meninggal dunia sehingga peristiwa ini dilaporkan kepada Sufyan: &lt;Wahai Aba Muhammad (kuniah bagi Sufyan bin Uyainah), Muhammad bin Idris telah meninggal dunia&gt;. Maka Sufyan pun menyatakan: &lt;Bila memang dia meninggal dunia, maka sungguh telah meninggal orang yang terbaik bagi ummat ini di jamannya&gt;.&#8221; Demikian pujian para Ulama&#8217; yang sebagiannya kami nukilkan dalam tulisan ini untuk menggambarkan kepada para pembaca sekalian betapa beliau sangat tinggi kedudukannya di kalangan para Ulama yang sejaman dengannya. Apalagi tentunya para ulama&#8217; yang sesudahnya.</p>
<p>Imam As-Syafi`ie tinggal di Baghdad hanya dua tahun. Setelah itu beliau pindah ke Mesir dan tinggal di sana sampai beliau wafat pada th. 204 H dan usia beliau ketika wafat 54 th. Beliau telah meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu ilmu yang beliau tulis di kitab Ar-Risalah dalam ilmu Ushul Fiqih. Di samping itu beliau juga menulis kitab Musnad As-Syafi`ie , berupa kumpulan hadits Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang diriwayatkan oleh beliau; dan kitab Al-Um berupa kumpulan keterangan beliau dalam masalah fiqih. Sebagaimana Al-Um , kumpulan riwayat keterangan Imam As Syafi`ie dalam fiqih juga disusun oleh Al-Imam Al-Baihaqi dan diberi nama Ma&#8217;rifatul Aatsar was Sunan . Al-Imam Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani membawakan beberapa riwayat nasehat dan pernyataan Imam As-Syafi`ie dalam berbagai masalah yang menunjukkan pendirian Imam As-Syafi`ie dalam memahami agama ini. Beberapa riwayat Abu Nu&#8217;aim tersebut kami nukilkan sebagai berikut :</p>
<p>Imam As-Syafi`ie menyatakan: &#8220;Bila aku melihat Ahli Hadits, seakan aku melihat seorang dari Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .&#8221; (HR. Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 109)</p>
<p>Ini menunjukkan betapa tinggi penghargaan beliau kepada para Ahli Hadits.</p>
<p>Imam As-Syafi`ie menyatakan: &#8220;Sungguh seandainya seseorang itu ditimpa dengan berbagai amalan yang dilarang oleh Allah selain dosa syirik, lebih baik baginya daripada dia mempelajari ilmu kalam.&#8221; (HR. Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 111)</p>
<p>Beliau menyatakan juga: &#8220;Seandainya manusia itu mengerti bahaya yang ada dalam Ilmu Kalam dan hawa nafsu, niscaya dia akan lari daripadanya seperti dia lari dari macan.&#8221;</p>
<p>Ini menunjukkan betapa anti patinya beliau terhadap Ilmu Kalam, suatu ilmu yang membahas perkara Tauhid dengan metode pembahasan ilmu filsafat.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ar-Rabi&#8217; bin Sulaiman bahwa dia menyatakan: Aku mendengar As-Syafi`ie berkata:</p>
<p>&#8220;Barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur&#8217;an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir.&#8221; ((HR. Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 113)</p>
<p>Diriwayatkan pula oleh Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani bahwa Al-Imam As-Syafi`ie telah mengkafirkan seorang tokoh ahli Ilmu Kalam yang terkenal dengan nama Hafs Al-Fardi, karena dia menyatakan di hadapan beliau bahwa Al-Qur&#8217;an itu adalah makhluk. Demikian tegas Imam As-Syafi`ie dalam menilai mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur&#8217;an itu makhluk. Dan memang para Ulama&#8217; Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah telah sepakat untuk mengkafirkan siapa yang meyakini bahwa Al-Qur&#8217;an itu makhluk.</p>
<p>Al-Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan pula dengan sanadnya dari Al-Buwaithie yang menyatakan: &#8220;Aku bertanya kepada As-Syafi`ie: &lt;Bolehkah aku shalat di belakang imam yang Rafidli?&gt; Maka beliau pun menjawabnya: &lt;Jangan engkau shalat di belakang imam yang Rafidli, ataupun Qadari ataupun Murji&#8217;ie&gt;. Akupun bertanya lagi kepada beliau: &lt;Terangkan kepadaku tentang siapakah masing-masing dari mereka itu?&gt; Maka beliau pun menjawab: &lt;Barang siapa yang mengatakan bahwa iman itu hanya perkataan lisan dan hati belaka, maka dia itu adalah murji&#8217;ie; barangsiapa yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar itu bukan Imamnya Muslimin, maka dia itu adalah rafidli. Barangsiapa yang mengatakan bahwa kehendak berbuat itu sepenuhnya dari dirinya (yakni tidak meyakini bahwa kehendak berbuat itu diciptakan oleh Allah ), maka dia itu adalah qadari&gt;.&#8221;</p>
<p>Demikian Imam As-Syafi`i mengajarkan sikap terhadap Ahlil Bid&#8217;ah seperti yang disebutkan contohnya dalam pernyataan beliau, yaitu orang-orang yang mengikuti aliran Rafidlah yang di Indonesia sering dinamakan Syi&#8217;ah. Aliran Syiah terkenal dengan sikap kebencian mereka kepada para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , khususnya Abu Bakar dan Umar. Di samping Rafidlah, masih ada aliran bid&#8217;ah lainnya seperti Qadariyah yaitu aliran pemahaman yang menolak beriman kepada rukun iman yang keenam (yaitu keimanan kepada adanya taqdir Allah Ta`ala). Juga aliran Murji&#8217;ah yang menyatakan bahwa iman itu hanya keyakinan yang ada di hati dan amalan itu tidak termasuk dari iman. Murji&#8217;ah juga menyatakan bahwa iman itu tidak bertambah dengan perbuatan ketaatan kepada Allah dan tidak pula berkurang dengan kemaksiatan kepada Allah. Semua ini adalah pemikiran sesat, yang menjadi alasan bagi Imam As-Syafi`ie untuk melarang orang shalat di belakang imam yang berpandangan dengan salah satu dari pemikiran-pemikiran sesat ini.</p>
<p>Imam As-Syafi`ie juga amat keras menganjurkan ummat Islam untuk jangan ber taqlid (yakni mengikut dengan membabi buta) kepada seseorang pun sehingga meninggalkan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah ketika pendapat orang yang diikutinya itu menyelisihi pendapat keduanya. Hal ini dinyatakan oleh beliau dalam beberapa pesan sebagai berikut:</p>
<p>Al-Hafidh Abu Nu`aim Al-Asfahani meriwayatkan dalam Hilyah nya dengan sanad yang shahih riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, katanya: &#8220;Ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie berkata: &lt;Wahai Aba Abdillah (yakni Ahmad bin Hanbal), engkau lebih mengetahui hadits-hadits shahih dari kami. Maka bila ada hadits yang shahih, beritahukanlah kepadaku sehingga aku akan bermadzhab dengannya. Sama saja bagiku, apakah perawinya itu orang Kufah, ataukah orang Basrah, ataukah orang Syam&gt;.&#8221;</p>
<p>Demikianlah para Ulama&#8217; bersikap tawadlu&#8217; sebagai kepribadian utama mereka. Sehingga tidak menjadi masalah bagi mereka bila guru mengambil manfaat dari muridnya dan muridnya yang diambil manfaat oleh gurunya tidak pula kemudian menjadi congkak dengannya. Tetap saja sang murid mengakui dan mengambil manfaat dari gurunya, meskipun sang guru mengakui di depan umum tentang ketinggian ilmu si murid. Guru-guru utama Imam Asy Syafi`ie, Imam Malik dan Imam Sufyan bin Uyainah, dengan terang-terangan mengakui keutamaan ilmu As-Syafi`ie. Bahkan Imam Sufyan bin Uyainah banyak bertanya kepada Imam Asy-Syafi`ie saat Imam Syafi&#8217;ie ada di majelisnya. Padahal Imam Asy-Syafi`ie duduk di majelis itu sebagai salah satu murid beliau, dan bersama para hadirin yang lainnya, mereka selalu mengerumuni Imam Sufyan untuk menimba ilmu daripadanya. Tetapi meskipun demikian, Imam Syafi`ie tidak terpengaruh oleh sanjungan gurunya. Beliau tetap mendatangi majelis gurunya dan memuliakannya. Di samping itu, hal yang amat penting pula dari pernyataan Imam Asy-Syafi`ie kepada Imam Ahmad bin Hanbal tersebut di atas, menunjukkan kepada kita betapa kuatnya semangat beliau dalam merujuk kepada hadits shahih untuk menjadi pegangan dalam bermadzhab, dari manapun hadits shahih itu berasal.</p>
<p>Imam Asy-Syafi`ie menyatakan pula: &#8220;Semua hadits yang dari Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam maka itu adalah sebagai omonganku. Walaupun kalian tidak mendengarnya dariku.&#8221;</p>
<p>Demikian beliau memberikan patokan kepada para murid beliau, bahwa hadits shahih itu adalah dalil yang sah bagi segala pendapat dalam agama ini. Maka pendapat dari siapapun bila menyelisihi hadits yang shahih, tentu tidak akan bisa menggugurkan hadits shahih itu. Bahkan sebaliknya, pendapat yang demikianlah yang harus digugurkan dengan adanya hadits shahih yang menyelisihinya.</p>
<p>P e n u t u p :</p>
<p>Masih banyak mutiara hikmah yang ingin kami tuangkan dalam tulisan ini dari peri hidup Imam Asy-Syafi`ie. Namun dalam kesempatan ini, rasanya tidak cukup halaman yang tersedia untuk memuat segala kemilau mutiara hikmah peri hidup beliau itu. Bahkan telah ditulis oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah kitab-kitab tebal yang berisi untaian mutiara hikmah peri hidup Imam besar ini. Seperti Al-Imam Al-Baihaqi menulis kitab Manaqibus Syafi`ie , juga Ar-Razi menulis kitab dengan judul yang sama. Kemudian Ibnu Abi Hatim menulis kitab berjudul Aadaabus Syaafi&#8217;ie . Dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua menunjukkan kepada kita, betapa agungnya Imam besar ini di mata para Imam Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Semoga Allah Ta`ala menggabungkan kita di barisan mereka di hari kiamat nanti. Amin ya Mujibas sa&#8217;ilin .</p>
<p>Daftar Pustaka:</p>
<p>1. Tarikh Baghdad , Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 58 &#8211; 59, Darul Fikr &#8211; Beirut Libanon, tanpa tahun.</p>
<p>2. Hilyatul Awliya&#8217; Wathabaqatul Asfiya&#8217; , Abu Nu&#8217;aim Al-Ashfahani, jilid 9 hal 65 &#8211; 66. Juga hal. 67, Darul Fikr, Beirut &#8211; Libanon, et. 1416 H / 1996 M. Lihat pula Tahdzibul Kamal jilid 24 hal. 358 &#8211; 360. Al-Hafidh Al-Mutqin Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, diterbitkan oleh Mu&#8217;assatur Risalah, cet. Pertama th. 1413 H / 1992 M.</p>
<p>3. Tarikh Baghdad , Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 60.</p>
<p>4. Ibid, hal. 63.</p>
<p>5. Hilyatul Awliya&#8217; , Al-Hafidh Abu Nu&#8217;aim Ahmad bin Abdullah Al-Asfahani, jilid 9 hal 70, Darul Fikr Beirut Libanon, cet. Th. 1416 H / 1996 M.</p>
<p>6. Siar A&#8217;lamin Nubala&#8217; , Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 6 &#8211; 7, Mu&#8217;assasatur Risalah, cetakan ke 11 th. 1417 H / 1996 M.</p>
<p>7. Tahdzibul Kamal fi Asma&#8217;ir Rijal , Al-Hafidh Al-Mutqin Jamaluddin Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, jilid 24 hal. 271.</p>
<p>8. Siar A&#8217;lamin Nubala&#8217; , Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 18. Juga Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani meriwayatkannya dalam Hilyatul Auliya&#8217; juz 9 hal. 95.</p>
<p>9. Hilyatul Auliya&#8217; , Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani, jilid 9 hal 109 &#8211; 113.</p>
<p>10. Siar A&#8217;lamin Nubala&#8217; , Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 31.</p>
<p>11. Hilyatul Auliya&#8217; , Al-Hafidh Abu Nu&#8217;aim Al-Asfahani, jilid 9 hal. 170.</p>
<p>12. Demikian diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib nya dan Ibnu Asakir dalam Tarikh nya dan dinukil oleh Adz-Dzahabi dalam Siar A&#8217;lamin Nubala&#8217; jilid 10 hal. 17.</p>
<p>13. Diriwayatkan dalam Aadaabus Syafi`ie dan Al-Bidayah . Adz-Dzahabi menukilkan riwayat ini dalam Siar A&#8217;lamin Nubala&#8217; jilid 10 hal. 35.</p>
<p><a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/imam-asy-syafi%E2%80%99i/">http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/imam-asy-syafi%E2%80%99i/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rijalwannab.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rijalwannab.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rijalwannab.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rijalwannab.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rijalwannab.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rijalwannab.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rijalwannab.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rijalwannab.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rijalwannab.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rijalwannab.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rijalwannab.wordpress.com&blog=3835849&post=179&subd=rijalwannab&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rijalwannab.wordpress.com/2008/09/22/imam-asy-syafi%e2%80%99i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8d83e67c8418ed7f7c3a50ff8a9dd57a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rijaluna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>